
PRODUKSI film drama aksi-sejarah The Ghost and the Gun (atau Peluru Senja) menghadirkan tantangan akting mendalam bagi para pemeran asal Indonesia dan Bali. Meski mengusung format dua bahasa (Bahasa Melayu dan Inggris), para aktor Indonesia dituntut untuk mahir berdialek khas Provinsi Pahang, Malaysia, demi menjaga otentisitas latar sejarah tahun 1948.
Film garapan sutradara Anshul Tiwari yang siap tayang di bioskop CGV mulai 23 Oktober 2026 ini menyoroti ikatan kultural dan sejarah bersama antara Indonesia dan Malaysia. Aktor utama asal Malaysia, Hazman Al Idrus (pemeran Ishraq Wan), mengapresiasi kerja keras dan profesionalisme para aktor Indonesia, seperti Asmara Abigail (pemeran Siti) hingga talenta lokal Bali yang dinilainya mampu menguasai dialek Pahang.
“Beberapa pemain dari Indonesia seperti Asmara Abigail, Indra Paci, ada beberapa pemain dari Bali juga, bisa ngobrol berdialek bahasa Pahang itu sangat luar biasa buat saya. Bahkan saya sendiri pun enggak bisa ngobrol dialek Pahang,” ujar Hazman.
Tantangan serupa dirasakan oleh aktor lokal asal Bali, Yoga Gunatika (Bli Yoga). Selain tantangan adaptasi dialog bahasa asing dan dialek daerah di lapangan, keberanian untuk keluar dari zona nyaman menjadi kunci utama dalam menjaga energi karakter.
“Keterlibatan aktif para kreator dan aktor Indonesia di film ini membuktikan bahwa kualitas serta kedalaman rasa dari talenta kita sangat diperhitungkan di kancah sinema global,” ungkap Yoga. “Menurut saya, yang perlu disampaikan dari film ini adalah energinya. Kita sebagai orang Bali ataupun orang Indonesia bisa melihat dan mencontoh energi tersebut,” tambahnya.
Film yang proses syutingnya dilakukan 100 persen di Bali dengan merekonstruksi set perkampungan dan kamp pertahanan era 1940-an ini menjadi bukti nyata kolaborasi antarnegara. Keterbatasan bahasa dan budaya berhasil dijembatani lewat proses adaptasi peran yang profesional di set syuting.
(P-4)
