
BAGI warga Kelurahan Bonalumban, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, surutnya air banjir bukan berarti penderitaan berakhir. Ketika air mulai meninggalkan permukiman, pekerjaan berat justru kembali menanti. Lumpur yang mengendap, perabotan yang basah, serta rumah yang harus dibersihkan menjadi bagian dari rutinitas pahit yang terus berulang setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Hujan deras yang melanda wilayah Tapanuli Tengah pada Jumat (23/10/2026) hingga Sabtu (24/10/2026) dini hari kembali memicu kecemasan warga. Air merendam rumah hingga mencapai ketinggian sekitar 1,5 meter. Demi keselamatan, warga terpaksa mengungsi dan baru kembali ke rumah masing-masing setelah air berangsur surut.
Namun, di balik rutinitas mengungsi dan membersihkan rumah, persoalan mendasar yang selama ini dikeluhkan warga kembali menjadi sorotan: penanganan sungai dan pembangunan tanggul yang dinilai belum mampu memberikan perlindungan memadai bagi permukiman.
Tanggul Pasir Jadi Sorotan Warga
Warga mengungkapkan bahwa penanganan sungai selama ini lebih banyak dilakukan melalui pengerukan badan sungai. Namun, material pasir yang digunakan untuk membentuk tanggul dinilai sangat rapuh dan mudah tergerus ketika debit air meningkat akibat hujan deras.
Kekecewaan ini disampaikan oleh Nur Tanjung, warga Tukka, pada Sabtu (24/10/2026). Ia mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap perbaikan tanggul yang seharusnya menjadi prioritas utama. Menurutnya, pengerukan sungai perlu diikuti dengan pembangunan tanggul yang permanen dan kokoh agar air tidak mudah meluap ke kawasan permukiman.
“Apakah kami ini dijadikan bahan proposal permintaan dana pembangunan oleh Pemkab Tapanuli Tengah, sehingga tanggul tidak ditangani dengan baik?” cetusnya dengan nada kesal.
Bagi masyarakat Bonalumban, pembangunan infrastruktur pengendali banjir bukan sekadar proyek fisik, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi nyawa dan harta benda mereka.
Pemerintah Daerah dan Pusat Didesak Bertindak
Keluhan serupa disampaikan oleh Sabam Situmeang (65). Ia meminta pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap kondisi di kawasan Tukka. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu mengevaluasi penanganan sungai secara menyeluruh, termasuk kualitas material yang digunakan untuk tanggul.
“Pemerintah daerah maupun pusat harus memprioritaskan pembangunan tanggul di daerah ini. Jangan membuat warga Tukka menjadi bahan tontonan kemanusiaan,” tegas Sabam.
Ia berharap ada langkah konkret dan berkelanjutan agar ancaman banjir serupa dapat diminimalkan, sehingga warga tidak terus-menerus menanggung beban kerugian setiap kali hujan turun.
Pengerukan Saja Tak Cukup
Berulangnya banjir di Bonalumban menjadi pengingat bahwa penanganan banjir memerlukan pendekatan teknis yang lebih komprehensif. Pengerukan badan sungai saja tidak cukup jika tidak disertai dengan stabilitas tebing dan konstruksi tanggul yang sesuai dengan karakteristik aliran sungai setempat.
Penggunaan material pasir sebagai tanggul perlu dikaji ulang secara teknis. Tanpa perencanaan yang tepat dan material yang mumpuni, upaya penanganan yang dilakukan berisiko sia-sia dan tidak memberikan perlindungan optimal bagi warga.
Pemerintah diharapkan segera melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi untuk mengevaluasi pekerjaan yang telah dilaksanakan serta menyusun langkah penanganan berdasarkan kajian teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Catatan Lapangan: Saat genangan mulai surut, warga Bonalumban kembali berjibaku membersihkan lumpur. Namun, rasa cemas akan banjir susulan tetap membayangi selama solusi permanen pada tanggul sungai belum direalisasikan.
Kini, warga menanti langkah nyata dari pihak berwenang agar mereka tidak lagi terjebak dalam siklus pengungsian dan pembersihan rumah yang melelahkan setiap kali musim penghujan tiba. (H-2)
