Ruben Amorim Tegaskan 'Tak Ada Pertandingan' Usai Milan Dipermalukan Bournemouth
Pelatih AC Milan Ruben Amorim menyebut laga kontra Bournemouth tak lagi relevan usai kartu merah Mike Maignan. Simak evaluasi Amorim usai kekalahan 0-3 di Liga Europa!(AC Milan)

PELATIH AC Milan, Ruben Amorim, menegaskan laga melawan Bournemouth seolah “tidak pernah ada” setelah timnya terpaksa bermain dengan 10 orang sejak menit ke-28. Bermain minus satu pemain akibat kartu merah membuat Rossoneri tak berkutik hingga akhirnya menyerah dengan skor telak 0-3 dalam lanjutan Liga Europa di Vitality Stadium.

Hasil minor ini memperpanjang catatan kelam Amorim saat menghadapi Bournemouth. Rekor buruk tersebut sudah bermula sejak ia menukangi Manchester United, termasuk kekalahan 0-3 di stadion yang sama, dan kini berlanjut bersama AC Milan.

AC Milan harus membayar mahal dua kesalahan konyol di awal babak pertama dalam situasi tendangan sudut. Bencana dimulai dari pelanggaran handball Koni De Winter yang membuahkan penalti pertama bagi Bournemouth yang dieksekusi Justin Kluivert. Tak lama berselang, kiper Mike Maignan melakukan aksi tidak terpuji dengan mendorong wajah Tyler Adams. Insiden tersebut memicu hukuman ganda berupa kartu merah langsung serta penalti kedua yang dituntaskan oleh Marcus Tavernier.

Bournemouth kemudian menyempurnakan kemenangan mereka melalui eksekusi tendangan bebas Amine Adli menjelang akhir laga. Kekalahan telak ini merugikan Milan dari segi selisih gol yang krusial dalam format baru Liga Europa.

Usai pertandingan, Amorim tidak menutup-nutupi rasa kecewanya atas kecerobohan yang dilakukan anak asuhnya.

“Penalti dari tendangan sudut dan kartu merah itu mengubah segalanya, jadi itu bukanlah sebuah pertandingan. Itu bukan pertandingan,” ujar Amorim kepada Sky Sport Italia.

“Kami tidak punya waktu untuk bangkit dari penalti pertama. Kami mencoba menekan di akhir laga, tetapi gol ketiga membuat segalanya semakin sulit bagi kami,” lanjut pelatih asal Portugal tersebut.

Saat disinggung mengenai keputusan rotasi pemain, Amorim menepis anggapan masalah timnya terletak pada kebugaran atau ritme permainan.

“Tidak ada pertandingan. Ini bukan soal ritme atau Salzburg, memang tidak ada pertandingan. Ini adalah tim yang berbeda, Anda tidak boleh memberikan penalti dari tendangan sudut seperti itu dan Anda tidak boleh mendapat kartu merah dalam situasi tersebut,” tegasnya dengan nada jengkel.

Amorim menyoroti kegagalan Maignan mengontrol emosi, terlebih dengan aturan baru di mana pelanggaran tetap berbuah penalti meski bola belum dalam posisi aktif (in play).

“Itu benar, kami tidak boleh melakukan hal tersebut. Kami harus menjaga 11 pemain tetap di lapangan, ada pemain yang lebih berpengalaman, tetapi sekarang kami harus bangkit dan bersiap untuk pertandingan berikutnya. Kami harus berlari sangat banyak dengan satu pemain lebih sedikit, mencoba menekan di saat yang tepat dalam situasi itu, jadi ini adalah hal negatif dari semua aspek malam ini,” jelas Amorim.

Meski bermain dengan 10 orang, Amorim memilih tidak mengubah formasi menjadi 4-4-1 dan tetap mempertahankan skema tiga bek. Ia berdalih strategi tersebut diterapkan demi menjaga kenyamanan para pemain di lapangan.

Mengenai insiden kartu merah Maignan, Amorim mengaku belum sempat berbicara secara personal dengan kiper asal Prancis tersebut.

“Tidak, saya tidak punya waktu. Sekarang saya harus pergi ke Milan untuk mempersiapkan pertandingan berikutnya melawan Udinese. Kami akan membicarakannya setelah kembali,” ungkapnya.

Kekalahan ini semakin memperberat langkah AC Milan di panggung Liga Europa setelah menelan dua kekalahan dari tiga laga awal, termasuk hasil buruk 0-2 saat menjamu Benfica. Memasuki hari ke-100 masa kepelatihannya di San Siro, Amorim meminta semua pihak melihat situasi tim secara realistis.

“Ini adalah bagian dari perjalanan. Jika Anda melihat sejarah Milan, kami berada di titik yang berbeda. Fabio Capello berbicara tentang sejarah Milan, dan saya memahami itu, tetapi kita harus realistis. Saya mengapresiasi cara kami bertarung, kami mencoba melakukan sesuatu, untuk saling membantu, jadi kami harus belajar dari momen-momen ini, menyadari bahwa inilah sepak bola,” tutup Amorim. (Football-Italia/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *