
DI dalam laboratorium yang mengorbit Bumi di tengah hampa udara luar angkasa, aktivitas penelitian biologi terus berlangsung. Dalam sebuah potret terbaru yang diabadikan Komandan Misi SpaceX Crew-13 NASA, Jessica Watkins, terlihat astronot NASA Luke Delaney sedang sibuk menjalankan eksperimen botani di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS).
Melalui gambar tersebut, Delaney tampak bekerja menggunakan cawan petri (petri dishes) dan modul eksperimen khusus. Penelitian ini dirancang untuk mendalami bagaimana tanaman tumbuh serta merespons lingkungan mikrogravitasi di luar angkasa, secara spesifik meneliti respons genetik tanaman terhadap kondisi gravitasi minim tersebut.
Studi mengenai tumbuhan di orbit bumi ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. Selama bertahun-tahun, para astronot di ISS telah melakukan berbagai penyelidikan dan eksperimen tanaman, mulai dari menanam cabai dan produk pertanian konsumsi lainnya, hingga membuktikan bahwa lumut mampu bertahan hidup di lingkungan luar angkasa yang ekstrem di luar stasiun.
Stasiun luar angkasa tidak hanya berisi dinding berwarna putih dan abu-abu yang dipenuhi komputer, tombol, serta sakelar teknologi tinggi. Kehadiran berbagai riset biologis menjadikan laboratorium melayang ini tetap dihidupi oleh sains hayati.
Meskipun ruang angkasa sering dianggap sebagai “batas akhir” (the final frontier) untuk mempelajari objek jauh seperti lubang hitam hingga ledakan bintang, berbagai aktivitas di ISS sejatinya dirancang untuk memberikan dampak balik bagi kehidupan di Bumi. Selain satelit yang memantau perubahan bentuk lahan, migrasi satwa, pencairan gletser, dan bencana alam dari orbit, eksperimen terhadap tanaman, hewan, organisme mikroskopis, serta riset medis di ISS ditujukan untuk mendukung perawatan kesehatan dan kehidupan manusia di Bumi. (Space/Z-2)
