
SUHU tubuh manusia yang berada di kisaran rata-rata 37 derajat Celsius selama ini menjadi benteng pertahanan alami dari serangan infeksi mikroorganisme. Panas tubuh membuat sebagian besar jenis jamur di alam liar tidak mampu bertahan hidup begitu terhirup atau masuk ke dalam jaringan tubuh manusia. Namun, krisis iklim dan lonjakan suhu global perlahan mulai meruntuhkan benteng alami tersebut.
Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dilakukan Carla Schuh dan Chaitanya Gokhale dari Universitas Würzburg, Jerman, menyoroti ancaman ragi kebal obat bernama Candida auris. Kajian tersebut mengevaluasi dugaan kenaikan suhu bumi turut mendorong adaptasi jamur ini hingga mampu menembus batas toleransi panas tubuh manusia.
Meski ulasan ini merangkum serangkaian penelitian sebelumnya dan tidak secara langsung membuktikan korelasi sebab-akibat absolut, ancaman adaptasi jamur terhadap suhu panas makin nyata di dunia medis.
Pertahanan Tubuh Manusia yang Terancam
Dari perkiraan 3 hingga 5 juta spesies jamur yang ada di Bumi, hanya beberapa ratus yang diketahui dapat menginfeksi manusia. Sebagian besar jamur tersebut pun umumnya hanya mengancam individu dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah.
Akan tetapi, seiring meningkatnya suhu lingkungan akibat pemanasan global, spesies jamur yang memiliki ketahanan terhadap panas mendapatkan keunggulan evolusioner. Melalui proses adaptasi lintas generasi, sejumlah populasi jamur perlahan terbiasa dengan suhu yang lebih tinggi, sehingga lebih siap bertahan hidup di dalam suhu tubuh manusia.
Candida auris menjadi salah satu contoh nyata mikroorganisme yang berhasil melompati rintangan suhu tersebut. Ragi ini tidak hanya tumbuh subur pada suhu tubuh normal manusia, tetapi beberapa sampel klinis bahkan terbukti mampu bertahan pada suhu ekstrem hingga sekitar 47 derajat Celsius.
Jamur Kebal Obat yang Menghantui Rumah Sakit
Candida auris pertama kali diidentifikasi para ilmuwan tahun 2009 dari saluran telinga seorang pasien di Jepang. Pengujian ulang terhadap sampel lama kemudian mengungkapkan patogen ini sebenarnya telah menginfeksi pasien di Korea Selatan sejak 1996. Kesalahan identifikasi laboratorium yang kerap membedakannya dengan jenis ragi lain membuat catatan penyebarannya sempat tidak terdeteksi secara akurat selama bertahun-tahun.
Hanya dalam waktu satu dekade sejak penemuannya, Candida auris telah menyebar dan ditemukan di lima benua. Penyebarannya memicu kekhawatiran besar di fasilitas pelayanan kesehatan dunia karena beberapa faktor utama:
- Bertahan Lama di Permukaan: Ragi ini sanggup bertahan hidup di permukaan benda keras di lingkungan rumah sakit selama berbulan-bulan dan sulit dihilangkan dengan prosedur pembersihan standar.
- Penyebaran Tanpa Gejala: Seseorang dapat membawa (colonized) jamur ini tanpa menunjukkan gejala sakit, namun tetap berpotensi menularkannya kepada pasien lain.
- Resistensi Antijamur: Sejumlah galur (strain) Candida auris tercatat resisten terhadap tiga golongan utama obat antijamur yang ada saat ini.
Pengembangan obat baru untuk infeksi jamur relatif sulit karena struktur sel jamur memiliki banyak kemiripan dengan sel manusia, sehingga menyulitkan penciptaan obat yang aman tanpa merusak sel tubuh pasien.
Risiko fatalitas tertinggi mengintai pasien rawat inap yang berada dalam kondisi kritis, memiliki daya tahan tubuh lemah, serta menggunakan alat medis invasif seperti kateter. Berdasarkan studi yang dirangkum dalam ulasan ilmiah tersebut, tingkat kematian pada pasien infeksi aliran darah akibat Candida auris berkisar antara 20% hingga 67%.
Antara tahun 2009 hingga 2016, empat kelompok genetik Candida auris yang berbeda muncul secara bersamaan di berbagai wilayah belahan dunia yang berjauhan. Fenomena kemunculan independen ini menguatkan dugaan para peneliti bahwa perubahan kondisi iklim global berperan mendorong evolusi serentak spesies jamur di alam bebas. (Earth/Z-2)
