
HARGA ayam potong di sejumlah pasar tradisional Kota Batam, Kepulauan Riau, terpantau bervariasi pada Kamis (22/10/2026). Berdasarkan pantauan di lapangan, harga komoditas protein hewani tersebut dipatok mulai dari Rp32.500 hingga Rp40.000 per kilogram.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia per 22 Oktober 2026 menunjukkan rata-rata harga daging ayam di Batam berada di angka Rp36.150 per kilogram. Namun, terdapat selisih harga yang cukup signifikan di antara pasar-pasar utama di kota ini.
Perbandingan Harga antar Pasar
Harga terendah tercatat di Pasar TOS 3000, Jodoh, dengan kisaran Rp32.500 per kilogram. Sementara itu, di Pasar Sagulung, harga terpantau berada di angka Rp36.000 per kilogram.
Harga tertinggi ditemukan di Pasar Aviari yang mencapai Rp40.000 per kilogram. Dengan demikian, terdapat selisih harga sebesar Rp7.500 per kilogram antara Pasar TOS 3000 dan Pasar Aviari, sebuah angka yang cukup berpengaruh bagi pengeluaran rumah tangga.
- Pasar TOS 3000: Rp32.500/kg
- Pasar Sagulung: Rp36.000/kg
- Pasar Aviari: Rp40.000/kg
- Rata-rata Kota: Rp36.150/kg
Respons Konsumen
Variasi harga ini memaksa konsumen untuk lebih cermat dalam mengatur anggaran belanja. Ani (34), seorang ibu rumah tangga di Batam, mengaku harus menentukan prioritas karena kebutuhan pokok lainnya seperti beras dan cabai juga memerlukan alokasi dana yang tidak sedikit.
“Kalau harga ayam naik, kami harus menyesuaikan belanja. Harapannya harga tetap terjangkau agar kebutuhan protein keluarga tetap terpenuhi,” ujar Ani.
Senada dengan Ani, Susie (23), konsumen lainnya, memilih untuk membandingkan harga antar pedagang atau pasar sebelum membeli. Menurutnya, selisih harga beberapa ribu rupiah sangat berarti untuk menghemat pengeluaran harian.
Faktor Distribusi dan Stok
Perbedaan harga di tingkat pedagang dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis, mulai dari harga pembelian di tingkat pemasok, ketersediaan stok, hingga biaya transportasi. Sebagai daerah kepulauan, stabilitas harga di Batam sangat bergantung pada kelancaran jalur distribusi pangan.
Gangguan pada pasokan atau kenaikan biaya angkut berisiko langsung memicu lonjakan harga di pasar tradisional. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memantau ketersediaan stok secara berkala guna memastikan harga tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Meskipun data per 21 dan 22 Oktober menunjukkan tren harga yang belum seragam, harga aktual di pasar dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasokan dan kebijakan masing-masing pedagang di lapangan. (H-2)
