Cahaya Kebahagiaan dari Kaki Pegunungan Meratus
Warga nembantu mengangkut panel surya ke Desa Juhu dengan berjalan kaki.(MI/Denny Susanto)

SUASANA malam di Desa Juhu, desa paling terpencil di kawasan Pegunungan Meratus, Provinsi Kalimantan Selatan, kembali semarak. Cahaya terang lampu menyinari rumah-rumah dan balai adat, seiring hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sejak beberapa waktu terakhir.

Masuknya PLTS bantuan sebuah lembaga bernama Girls and Women in Renewable Energy (GAWIREA) memberikan kebahagiaan bagi 350 warga desa.

“Berkat masuknya PLTS ke desa kami, terjadi perubahan kehidupan warga. Warga mendapatkan penerangan “bersih” yang stabil di malam hari tanpa perlu membeli bahan bakar mahal. Cahaya lampu kini menerangi rumah-rumah warga secara merata melalui konversi energi matahari. Aktivitas malam menjadi lebih produktif,” tutur Rubi, tokoh masyarakat Desa Juhu yang juga Ketua  Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, Senin (19/10).

Desa Juhu merupakan salah satu desa Kecamatan Batang Alai Timur, Kabulaten Hulu Sungai Tengah. Desa ini dikenal sebagai salah satu desa terpencil di kawasan Pegunungan Meratus yang berada di ketinggian 560 mdpl. Perlu waktu tempuh hingga dua hari dengan berjalan kaki untuk menjangkau desa yang dihuni komunitas adat Dayak Meratus ini.

Rubi menuturkan, selama ini sumber penerangan    puluhan rumah warga desa sangat bergantung pada penerangan tradisional yang memanfaatkan getah pohon damar. Sedangkan warga yang lebih mampu harus membeli genset dengan harga bahan bakar (BBM) sangat mahal mencapai Rp35.000 per liter. Sebelumnya warga sempat mengandalkan PLTMH (Mikro Hidro) yang dibangun pada 2022, namun infrastrukturnya kini hancur akibat dihantam banjir pada 2025 lalu.

“Praktis aktivitas masyarakat termasuk pendidikan terbatas pada siang hari. Kini dengan adanya PLTS, anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman dan jelas. Ibu rumah tangga memiliki keleluasaan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau aktivitas lainnya di malam hari,” kata Rubi. 

Meskipun membawa manfaat besar, warga Desa Juhu masih menghadapi tantangan berupa minimnya pelatihan teknis untuk pemeliharaan panel surya secara mandiri. Ada sejumlah desa terpencil di Kalsel yang masih menghadapi kendala serupa keterbatasan energi listrik, internet, pembangunan infrastruktur jalan hingga layanan publik pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Ratio elektrifikasi hampir 100 persen

Berdasarkan data PLN UID Kalsel-Kalteng dan Dinas ESDM Provinsi Kalsel, tingkat ratio elektrifikasi di wilayah ini hampir 100%, tepatnya 99,5%. Dari 2016 desa yang tersebar di 11 kabupaten hanya tersisa belasan desa yang belum menikmati energi listrik. 

“Ratio elektrifikasi ini merupakan tertinggi di regional Kalimantan. Tersisa sangat sedikit desa di wilayah terpencil, terdepan, dan tertinggal (3T) yang belum teraliri listrik sepenuhnya. 

Baik PLN dan Pemprov Kalsel menargetkan seluruh desa teraliri listrik pada 2027 mendatang,” ungkap Kepala Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Selatan, Emdarto.

Lebih jauh Endarto mengatakan Dinas ESDM Kalsel pada 2026 menyalurkan bantuan home solar cell atau PLTS Atap bagi 51 keluarga di daerah terpencil. Progam PLTS Atap ini juga akan diprioritaskan pada fasilitas umum seperti balai adat, mesjid, jalan dan sekolah-sekolah terpencil. Pihaknya juga tengah menggencarkan penggunaan PLTS Atap pada perkantoran Pemprov Kalsel.

“Ini bagian dari program transisi energi yang juga digalakkan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan energi fosil. Di Kalsel bauran energi dari energi baru terbarukan (EBT) sudah mencapai 16,8% dan kita targetkan 20% pada 2029 mendatang,” kata Endarto. 

Peningkatan bauran energi salah satunya melalui pemanfaatan PLTS ini menjadi program prioritas Pemprov Kalimantan Selatan menuju kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil seperti batubara. (DY/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *