
ORGANISASI Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa krisis kabut asap lintas batas yang melanda Asia Tenggara berpotensi berlangsung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Bencana ekologis yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia ini diperparah oleh fenomena El Nino yang diprediksi menjadi salah satu yang terkuat.
Direktur Kantor Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menyampaikan bahwa gelombang panas dan cuaca kering yang dibawa El Nino bertepatan dengan puncak musim kemarau. Kombinasi tersebut menciptakan kondisi ideal bagi meluasnya kobaran api, terutama dari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Kita melihat semakin banyak hari dan jam dengan kualitas udara tidak sehat yang terus bermunculan. Ekspektasi saya, kondisi ini akan terus berlanjut,” kata Churchill seperti dikutip dari the Straits Times.
Dampak kabut asap ini telah menekan negara tetangga. Singapura mencatat 13 hari berturut-turut dengan kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat, menjadikannya rentang terpanjang sejak krisis serupa pada 2015.
WMO mencatat, sekitar separuh dari emisi asap global dalam sepekan terakhir bersumber dari titik api di Indonesia. Menurut Churchill, kondisi ini baru dapat membaik secara signifikan saat arah angin berubah dan hujan monsun turun memadamkan titik api menjelang akhir tahun.
Namun, ia mengingatkan bahwa fenomena El Nino yang kuat kerap mengganggu dan menunda transisi perubahan musim tersebut. “Idealnya, kita terus berharap Indonesia dan, dengan bantuan dukungan internasional lainnya, mereka terus melakukan yang terbaik. Namun, yang terbaik itu tidak selalu cukup. Jadi, ya, inilah yang kita harapkan dari monsun, dan monsun memang membawa hujan,” ujar Churchill.
WMO pun mendorong negara-negara di kawasan ASEAN untuk memperkuat kerja sama sistem peringatan dini dan berbagi sumber daya pemadaman. Langkah ini dinilai mendesak untuk menekan dampak buruk bencana serta mencegah berulangnya krisis serupa di masa depan. (Ant/P-3)
