
Fenomena udara kabur masih menyelimuti wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Sabtu (17/10). Kondisi yang terjadi sejak 8 Oktober lalu ini sempat memicu penurunan jarak pandang di sekitar Bandara Mali hingga mencapai 3-6 kilometer pada 13 Oktober.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan satelit, terdapat sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satu wilayah yang tengah dianalisis sebagai kemungkinan sumber asap yang mencapai Alor adalah Papua bagian selatan.
Meski demikian, BMKG belum mengesampingkan kemungkinan adanya sumber asap lokal. Peta sebaran titik panas (hotspot) mendeteksi adanya titik panas di Pulau Timor dan wilayah NTT lainnya. Namun, Sti menegaskan bahwa titik panas tersebut perlu diverifikasi lebih lanjut di lapangan untuk memastikan adanya kebakaran lahan.
“Asal pasti asap di Alor belum dapat dipastikan sepenuhnya dan masih memerlukan kajian lebih lanjut,” ujar Sti Nenot’ek dalam keterangannya.
Selain faktor sumber asap, kondisi atmosfer di wilayah tersebut turut memperparah keadaan. Pengamatan di Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mendeteksi adanya fenomena inversi subsidensi, yakni lapisan udara hangat yang berada di atas udara dingin pada ketinggian 2,8 km dan 3,9 km. Kondisi ini menghambat pergerakan udara ke atas, sehingga asap dan partikel tertahan lebih lama di dekat permukaan.
BMKG memperingatkan bahwa partikel asap ini berisiko menyebabkan gangguan kesehatan seperti mata perih, batuk, hingga sesak napas. Selain itu, berkurangnya jarak pandang juga membahayakan keselamatan transportasi dan pengguna jalan.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa keluar rumah, warga disarankan menggunakan masker standar N95 atau KN95 serta menutup akses udara di rumah guna meminimalisasi masuknya asap. BMKG juga meminta warga menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan yang dapat memperburuk kualitas udara.(Z-10)
