Mega Diversity sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Bangsa
Menteri Kebudayaan Fadli Zon(Dok YouTube/Media Indonesia)

MEGA diversity adalah keragaman kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan saat ini Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dan 718 bahasa yang banyak dari mereka penuturnya semakin sedikit. Keanekaragaman bahasa itu lebih dari 10% dari bahasa yang ada di dunia, dengan 290 juta penduduk.

Kebudayaan bukan hanya soal seni, tapi ada juga soal bahasa, tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, olahraga tradisional, permainan rakyat dan juga seni.

“Mega diversity kita, menurut saya merupakan modal budaya yang harus menjadi bagian dari yang dikembangkan dan dimanfaatkan. Dan kalau kita lihat negara-negara lain sudah banyak yang menjadikan budaya itu sebagai fondasi ekonomi, bahkan bisa menjadi new engine of economic growth,” kata Fadli dalam Kuliah Umum Indonesia sebagai Mega Diversity Kebudayaan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (17/10).

Ia mencontohkan seperti di Korea Selatan, yang tidak mempunyai sumber daya alam batu bara, mineral, dan sebagainya seperti yang dimiliki Indonesia. Sehingga Negeri Ginseng itu menawarkan budaya mereka yang disukai oleh banyak orang di seluruh dunia.

Kondisi itu bisa menjadi contoh nyata bahwa budaya bisa menjadi new engine of economic growth (mesin baru pertumbuhan ekonomi)  .

Fadli menjelaskan saat ini kementeriannya memiliki empat pilar landasan kebijakan kebudayaan. Pertama, binding power atau kekuatan yang merekat sehingga perbedaan-perbedaan bukan ancaman.

“Perbedaan justru menjadi kekuatan di dalam melakukan binding power persatuan kita. Kemudian yang kedua adalah source of identity, ini sebagai pembentuk karakter bangsa, identitas bangsa, jati diri bangsa,” ujar Fadli.

Ketiga yang disebut sebagai infrastruktur dari ekonomi budaya yaitu CCIs atau Cultural and Creative Industries atau Industri Budaya dan Kreatif. CCIs dapat terus berkembang dan berinovasi sehingga mempunyai kontribusi bagi PDB.

Keempat adalah instrument diplomasi, soft power, atau soft diplomacy. Menjadikan budaya sebagai bagian dari soft power yang sangat penting. 

“Ragam budaya itu menjadi instrumen strategis, kekuatan lunak yang mempunyai daya tawar yang sangat tinggi dan bisa menjadi jembatan di dalam diplomasi,” ungkap dia.

“Jadi ini menurut saya pilar-pilar budaya yang sangat strategis, yang ke depannya harus kita kembangkan,” sambungnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Media Indonesia, Arief Suditomo menjelaskan Kuliah Umum Indonesia sebagai Mega Diversity Kebudayaan yang digelar oleh Media Indonesia merupakan sebuah kesempatan bagi pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang mereka bawakan kemudian dipertemukan dengan masyarakat.

“Sehingga niatan kami untuk bisa mempertemukan antara kebijakan, pembuatnya, dan publik itu merupakan salah satu hal yang secara terus-menerus ingin kami hadirkan,” ungkapnya.

Arief menilai kebudayaan Indonesia akan menjadi sebuah alat untuk memperkuat karakter sebagai bangsa. Ia berharap ke depan masyarakat tidak hanya merayakan kejayaan budaya yang dimiliki Indonesia, tetapi juga peluhuran budaya yang dilestarikan dan bisa dikenalkan di seluruh dunia.

“Kita nanti akan jadi lebih bangga menjadi orang Indonesia karena peluhuran budaya yang diolah, yang dilestarikan, dan dipelihara dengan kebijakan-kebijakan yang pada dasarnya akan membentuk kebudayaan sebagai salah satu nilai yang bisa kita banggakan sebagai seorang anak bangsa,” pungkasnya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *