Jatman Ajak Warga NU Perkuat Pendidikan Spiritual
Puncak tasyakuran Hari Lahir ke-69 Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah.(Jatman)

Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) mendorong penguatan pendidikan spiritual di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Penghayatan terhadap ajaran tasawuf dan praktik tarekat dinilai penting untuk menjernihkan hati, membentuk perilaku, serta menjaga persatuan dalam organisasi.

Seruan tersebut mengemuka dalam puncak tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-69 Jatman yang digelar di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa malam (13/10). Acara itu dihadiri Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur atas perjalanan Jatman selama 69 tahun dalam mengawal tradisi tasawuf di lingkungan NU. Prosesi itu didampingi Mudir Ali Idarah Aliyyah Jatman KH Ali Masykur Musa, Sekretaris Umum Jatman KH Ali M Abdillah, Koordinator Lajnah Mubahatsah Masail Ash-Shufiyah Jatman Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani, serta Rais Syu’biyyah Jatman Jombang Dr KH Abdul Kholiq Hasan.

Jatman Dorong Warga NU Menekuni Tarekat

Mudir Ali Jatman Ali Masykur Musa mengajak pengurus dan warga NU untuk kembali menekuni jalan tarekat. Menurutnya, praktik spiritual tersebut dapat menjadi sarana menjernihkan hati sekaligus memperkuat kehidupan ruhani di tengah tantangan zaman.

“Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat,” seru Ali Masykur di hadapan jamaah.

Ia menilai, pendidikan modern masih cenderung menitikberatkan pada pengembangan kemampuan kognitif dan keterampilan teknis. Sementara itu, pembinaan dimensi spiritual dinilai perlu mendapat perhatian lebih besar agar manusia tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga mampu menjaga kejernihan hati dalam bertindak.

“Kalau hati itu jernih, maka seluruh pengambilan keputusan, seluruh tindakan yang diamalkan adalah bicara dengan hati,” ujarnya.

Ali Masykur juga mengingatkan bahwa perilaku seseorang tidak hanya berkaitan dengan kondisi lahiriah, tetapi turut dipengaruhi keadaan batinnya. Ia mengutip Surah al-Hajj ayat 46 untuk menegaskan pentingnya menjaga hati dalam kehidupan beragama.

“Banyak orang yang salah, melanggar syariat, itu bukan karena matanya yang buta, tapi sungguh yang buta adalah hatinya,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyebut tarekat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi NU. Menurutnya, praktik tersebut turut menjadi inspirasi bagi para pendiri NU dalam membangun gerakan organisasi dengan bimbingan Syekhona Kholil Bangkalan.

“Maka dengan demikian, tarekat adalah amalan dari Nahdlatul Ulama yang menjadi inspirasi dari para muassis di bawah pimpinan sang guru Kiai Kholil Bangkalan,” pungkasnya.

Kejernihan Hati Menopang Persatuan

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz menyoroti pentingnya kemampuan mengelola hati dalam membangun dan mengembangkan organisasi. Menurut Gus Kikin, persatuan tidak cukup hanya dibangun melalui kesamaan tujuan, tetapi juga membutuhkan hubungan batin yang terjaga di antara para anggotanya.

Ia mencontohkan kiprah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari dalam mendirikan NU hingga membangun Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai bagian dari perjuangan melawan kolonialisme. Gus Kikin mengaitkan semangat tersebut dengan nilai persatuan yang terkandung dalam Qanun Asasi NU.

“Tampaknya itu apa yang ada di Qanun Asasi, yang disebut hati itu tersambung bukan hanya di kalangan umat Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan paham yang berbeda-beda pun ikut,” terang Gus Kikin.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, itu juga menekankan bahwa penguatan spiritualitas perlu diwujudkan dalam praktik ibadah sehari-hari. Tanpa latihan untuk menjaga konsentrasi dan menghadirkan hati, seseorang dinilai mudah teralihkan oleh urusan duniawi ketika menjalankan ibadah.

“Nah ini kalau tidak diasah, shalatnya itu susah, baru takbiratul ihram itu sudah ingat macam-macam. Enggak tersambung dengan Allah,” jelasnya.

Gus Kikin menambahkan, shalat semestinya menjadi sarana untuk mencegah seseorang melakukan perbuatan tercela. Karena itu, ia mendorong JATMAN mengambil peran lebih besar dalam memperkuat pendidikan ruhani di lingkungan NU.

“Ini kita harus lebih serius lagi di dalam melakukan pendidikan hati ini, dan yang bisa melakukan dengan serius itu adalah Jatman ini,” pungkasnya.

Melalui peringatan Harlah ke-69 ini, penguatan tradisi tasawuf kembali disorot sebagai bagian dari pembinaan warga NU. Pesan yang disampaikan para tokoh JATMAN dan PBNU menempatkan pendidikan hati bukan hanya sebagai urusan ibadah personal, tetapi juga sebagai fondasi perilaku dan persatuan dalam kehidupan berorganisasi. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *