
SEJAK Paul Lwin, mantan perwira penerbang Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), mendirikan startup pertahanan HavocAI di Rhode Island pada 2024, ia melihat Taiwan sebagai pulau penuh peluang. Lwin merancang perangkat lunak untuk mengelola armada maritim otonom alias jenis pertahanan drone yang diimpikan oleh perencana militer Taiwan sebagai pencegah invasi Tiongkok.
“Jika kita dapat membantu Taiwan membangun ribuan kapal otonom ini, itu bisa melindungi Taiwan dan mencegah pecah perang,” ujar Lwin. HavocAI hanyalah satu dari sekian banyak startup teknologi drone AS yang kini membanjiri Taiwan untuk mencari mitra manufaktur guna mengubah cetak biru menjadi kenyataan.
Membangun Rantai Pasok Non-Merah
Industri yang sedang berkembang ini berpotensi memenuhi permintaan militer AS akan rantai pasok drone yang aman dan terhindar dari ekosistem Tiongkok. Di sisi lain, kolaborasi ini menyediakan persenjataan bagi Taiwan yang dianggap penting bagi kelangsungan hidupnya sebagai demokrasi yang memerintah sendiri.
Kemitraan ini melibatkan berbagai skala perusahaan, mulai dari firma teknologi pertahanan kecil hingga raksasa seperti Anduril Industries. Kontrak drone Anduril dengan Taipei bahkan melampaui angka US$1 miliar. Setidaknya 13 perjanjian kolaborasi AS-Taiwan ditandatangani sejak September 2025.
Meskipun memproduksi drone di tanah Amerika adalah prioritas kebijakan–seperti program Drone Dominance senilai US$1,1 miliar yang diperkenalkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth–realitas industri menunjukkan tantangan besar. “Tidak semua bisa dibuat di Amerika Serikat saat ini. Membangun rantai pasok di luar ekosistem Tiongkok daratan adalah hal yang baik,” kata Trent Emeneker, mantan pemimpin Proyek Blue UAS Pentagon.
Investasi Besar Pemerintah Taiwan
Pemerintah Taiwan memicu demam emas industri ini pada Agustus lalu ketika mengalokasikan lebih dari US$7 miliar (sekitar Rp110 triliun) untuk belanja drone selama enam tahun ke depan. Langkah ini menghidupkan kembali berbagai kemitraan strategis yang sebelumnya masih dalam tahap perencanaan.
Strategi kemitraan ini meniru model you design it, we’ll build it yang dipopulerkan oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC). Taiwan, yang memiliki reputasi sebagai manufaktur kontrak yang gesit, kini menjadi pusat pengembangan R&D bagi perusahaan Amerika.
Chen Jeng-horng, Ketua CSBC (pembuat kapal terbesar di Taiwan), mengungkapkan bahwa perusahaannya dibanjiri tawaran kolaborasi setelah Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan kebutuhan akan 1.320 drone permukaan sekali pakai (suicide drone boats). Angkatan Laut Taiwan kemudian meminta anggaran US$930 juta selama enam tahun untuk pengadaan tersebut.
“Perusahaan Amerika berbondong-bondong mendatangi kami. Jika mereka ingin memperluas bisnis, Taiwan adalah klien utama berikutnya,” kata Chen. CSBC akhirnya memilih HavocAI sebagai mitra setelah melakukan proses kurasi terhadap belasan firma AS dan Eropa.
Kolaborasi Teknologi Tinggi
Selain drone laut, kolaborasi merambah ke sektor udara dan rudal. National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST), lengan R&D militer Taiwan, menandatangani kesepakatan produksi bersama dengan Anduril untuk memproduksi rudal jelajah Barracuda 500 dan drone bawah air di Taiwan.
Startup lain seperti STR8 Industries juga membangun kapabilitas in situ di Taiwan untuk menghadapi skenario kontingensi. “Jika Tiongkok memblokade Taiwan, segala sesuatu yang ada di pulau inilah yang bisa Anda andalkan,” ujar Phil Ho, salah satu pendiri STR8.
Pada akhir September, demonstrasi langsung di pesisir tenggara Taiwan memamerkan drone sayap tetap hasil kerja sama AEVEX (AS) dan CIRC (Taiwan). Drone tersebut menggunakan rangka cetak 3D desain AS, sementara sistem kendali terbang, baterai, dan motornya dipasok secara lokal oleh Taiwan. Sinergi ini diharapkan tidak hanya memperkuat pertahanan Taiwan, tetapi juga memasok kebutuhan pasukan AS di Pasifik yang beroperasi jauh dari daratan Amerika. (The Wall Street Journal/I-2)
