
SEKTOR pariwisata di Bali belum terdampak oleh kondisi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. Kunjungan wisatawan ke Bali masih stabil dan belum ada penundaan ataupun pembatalan.
“Belum terdampak terhadap kunjungan kita. Saya pastikan (kunjungan) masih stabil dan normal,” ujar Ketua Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Kabupaten Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya di Denpasar, Kamis (15/10).
Hanya saja, lanjut Suryawijaya, ketika wisatawannya sudah sampai di Bali ada kekecewaan karena dimana-mana dilihat kemacetan lalu lintas. Begitu juga jadwal tur yang ke sejumlah objek wisata seperti Sanur, Ubud, Karangasem, Lovina, dan lainnya menjadi tertunda akibat kemacetan tersebut. Inilah sulit dihitung kerugiannya.
“Jadi kerugiannya sulit kita hitung dan itu sangat luar biasa,” imbuh Suryawijaya yang juga Wakil Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) PHRI Bali ini.
Solusi untuk jangka pendek terhadap kondisi ini, kata Suryawijaya, perlu ada kerja sama hotel dengan pihak-pihak yang bisa menyediakan transportasi listrik untuk mendukung operasional terutama dari hotel ke bandara dan sebaliknya.
“Yang penting ada (layanan dari) airport ke hotel dan dari hotel ke airport,” ujarnya.
Sementara untuk jangka panjang, menurut Suryawijaya, untuk antisipasi kondisi darurat mungkin perlu disiapkan kendaraan listrik untuk mendukung operasional kendaraan berbahan bakar minyak.
“Misalnya dari 10 unit kendaraan (non-listrik) yng ada, ya mungkin dua sampai tiga unit perlu kendaraan listrik untuk jaga-jaga dalam kondisi emergency,” ujar Suryawijaya.
Terkait pemakaian mobil listrik terutama untuk jangka pendek, Suryawijaya berharap ada subsidi pajak dari pemerintah. Sedangkan untuk jangka panjang perlu lebih dipikirkan lagi mengingat Bali adalah salah satu destinasi wisata dunia.
Perkembangan terkini kondisi antrean sepeda motor di SPBU Perumahan Dalung Permai, Kuta Utara, Kabupaten Badung, tampak masih mengular sekitar sepanjang 700 meter. Antrean di kawasan perumahan terbesar di Bali dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi ini mengikuti alur ruas jalan utama yang ada tikungannya, lalu berbelok di perempatan jalan.
Pengendara tampak sabar antre di bawah panas terik matahari, sebagian di antaranya ada yang berteduh di emperan toko. (RS/E-4)
