4 Orang Terluka Akibat Serangan Rudal Houthi Hantam Gedung Aramco dan Riyadh
Kobaran api melanda fasilitas milik raksasa minyak Saudi, Aramco, di selatan Riyadh pada 3 Oktober 2026.(AFP)

Kerajaan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa serangan rudal oleh militer Houthi memicu kebakaran terbatas di bangunan milik perusahaan minyak Aramco di wilayah timur negara tersebut. Selain itu, serpihan dari rudal Houthi yang berhasil dicegat menyebabkan empat warga terluka di ibu kota Riyadh.

Seorang pejabat Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa bangunan administratif milik raksasa minyak Aramco di Dhahran dihantam serangan pada Selasa malam. Insiden tersebut menyebabkan “kebakaran terbatas”, namun dipastikan “tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.”

Sementara itu, badan pertahanan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa empat orang, dua perempuan, seorang pria, dan seorang anak-anak, mengalami luka-luka di Riyadh akibat jatuhnya puing-puing dari dua rudal jelajah Houthi yang berhasil dihalau. Serangan tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada 15 rumah warga.

Sebelum cegatan rudal terjadi di Riyadh, ledakan keras terdengar di seluruh penjuru kota disusul peringatan ancaman udara pada ponsel warga. Seorang saksi mata menceritakan situasinya kepada AFP. “Saya melihat proyektil membelah langit di atas sebuah mal, meninggalkan jejak cahaya kekuningan yang diikuti jejak asap. Kemudian, kami mendengar ledakan,” tuturnya. Ia menambahkan, “Orang-orang tetap tenang; tidak ada yang berbicara. Kami takut dan semua melihat ke arah langit.”

Gelombang serangan ini terjadi beberapa jam setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan gempuran ke sejumlah fasilitas minyak di Yaman barat, termasuk di Sanaa, Dhamar, dan Saada. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menulis di platform X bahwa target serangan adalah fasilitas yang digunakan Houthi untuk “menyuplai upaya perang” dan “mengancam kerajaan, Yaman, Laut Merah bagian selatan, serta jalur pelayaran.”

Eskalasi konflik meningkat tajam usai serangan Houthi ke Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu lalu yang menewaskan 13 orang dan menghentikan operasional bandara. Dalam rapat kabinet yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemerintah menegaskan “tidak akan membiarkan keamanan atau kebebasan navigasi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab terancam.”

Konflik yang kembali memanas sejak Juli lalu ini turut memicu kekhawatiran krisis kemanusiaan di Yaman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dugaan kasus kolera di Yaman melonjak tiga kali lipat dalam tiga minggu, yang kini memperberat beban rumah sakit di tengah penanganan korban perang.

Di panggung internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan bergabung dalam serangan bersama Arab Saudi melawan Houthi. Melalui platform Truth Social, Trump menulis bahwa “Houthi berperilaku sangat buruk” dan menuduh mereka bertindak “kemungkinan atas perintah Iran.”

Menanggapi hal tersebut, anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, menegaskan kepada AFP bahwa pihaknya akan menargetkan kepentingan AS di kawasan jika Washington mengintervensi. Bukhaiti menyatakan bahwa tujuan kampanye serangan ke target-target Arab Saudi adalah untuk mengirim pesan kepada Putra Mahkota “bahwa dia tidak lagi dapat melakukan agresi terhadap Yaman dari posisi yang aman.” (AFP/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *