Houthi Menggempur, Pangeran Saudi MBS Pindah-Pindah Istana dengan Bunker
Gambar dari rekaman CCTV yang dirilis oleh Kementerian Media Arab Saudi ini memperlihatkan para penumpang yang sedang berlindung saat kobaran api dan asap memenuhi sebagian area Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, dalam peristiwa yang(Dok Kementerian Media Arab Saudi)

PUTRA Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dilaporkan terus berpindah di antara istana-istana yang dijaga ketat dan dilengkapi dengan bunker bawah tanah. Langkah keamanan ekstrem ini diambil menyusul eskalasi serangan kelompok pemberontak Houthi yang menyasar jantung kerajaan.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat yang mengetahui pergerakannya, Pangeran Salman, 41, belum terlihat lagi di depan publik sejak Selasa (6/10), setelah sempat muncul untuk mendonorkan darah dalam kampanye nasional. Saat ini, ia dikawal oleh tim keamanan pilihan di tengah ancaman keamanan yang meningkat tajam.

Serangan Terburuk dalam Satu Dekade

Situasi keamanan di Arab Saudi memburuk setelah serangan besar pada Sabtu (10/10/2026) yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Insiden tersebut menewaskan 13 orang dan melukai sedikitnya 300 lain, menjadikannya serangan paling mematikan yang dihadapi kerajaan dalam satu dekade terakhir.

Akibat serangan rudal tersebut, bandara utama di ibu kota itu ditutup sejak akhir pekan. Data dari firma analitik penerbangan Cirium menunjukkan bahwa sekitar 60 persen jadwal penerbangan di Riyadh diperkirakan akan dibatalkan pada hari Senin.

Catatan Keamanan: Bandara Internasional King Khalid dilaporkan telah diserang sebanyak empat kali dalam lima hari terakhir. Juru bicara Houthi menegaskan niat mereka untuk terus menargetkan infrastruktur penerbangan Arab Saudi.

Respons Global dan Krisis Pertahanan

Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, menyatakan bahwa respons kerajaan akan sama seriusnya mengingat tingkat keparahan serangan tersebut. Namun, para pejabat mengakui bahwa stok pencegat rudal (interceptor) mereka mulai menipis untuk menahan serangan lanjutan.

Arab Saudi dikabarkan meminta bantuan pertahanan udara kepada Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan balasan Saudi terhadap Houthi, didukung oleh sekutu-sekutu Riyadh dalam Pakta Mekah.

Eskalasi Konflik Regional

Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada 2022 runtuh pada Juli tahun ini, dipicu oleh ketegangan perang AS-Israel terhadap Iran. Houthi, yang didukung oleh Iran, menuduh Saudi menembaki bandara Sanaa saat pesawat dari Iran mencoba mendarat, sehingga memicu dimulai kembali serangan lintas batas.

Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah berbicara dengan mitranya dari Saudi pada Minggu (11/10) malam. Araghchi memperingatkan agar tidak memaksakan pendekatan militer dan menawarkan bantuan Teheran untuk memulai dialog antara Riyadh dan Houthi guna meredakan ketegangan di Semenanjung Arab.

Konflik antara Arab Saudi dan Houthi berlangsung sejak 2015, ketika kerajaan melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. (The Independent/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *