
PEMERINTAH Prancis bersiap menghadapi gelombang unjuk rasa nasional baru pada Selasa (13/10) untuk mendukung aksi protes ribuan pelajar yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Para siswa melancarkan aksi mogok dan pemblokiran sekolah demi menuntut perbaikan kondisi fasilitas pendidikan serta ketersediaan tenaga pengajar.
Aksi mobilisasi ini didukung serikat pekerja dan partai oposisi sayap kiri France Unbowed. Demonstrasi dipusatkan melalui aksi long march di Paris mulai pukul 12.00 GMT, serta digelar serentak di berbagai kota besar lainnya di Prancis.
Langkah ini menyusul aksi demonstrasi besar pada Kamis pekan lalu yang melibatkan lebih dari 70.000 orang di seluruh penjuru negeri, yang berujung pada penangkapan sekitar 500 orang oleh pihak kepolisian.
Otoritas Prancis sebelumnya berharap gerakan protes siswa yang dimulai sejak akhir September tersebut mulai mereda menjelang libur pertengahan semester. Dalam aksinya, para siswa menumpuk tempat sampah dan berbagai rintangan untuk memblokir akses ke sekolah menengah atas (lycee), yang beberapa kali memicu bentrokan dengan aparat kepolisian.
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat hanya 130 dari 3.700 sekolah menengah atas yang ditutup pada Senin. Meski jumlah sekolah yang ditutup menurun, kementerian menyoroti tingkat kekerasan yang justru kian meningkat.
Delapan staf pengajar dilaporkan terluka pada Senin akibat insiden terkait protes, terutama di wilayah Paris, Bordeaux, dan Lyon. Di Reims, kembang api yang ditembakkan melalui tabung melukai dua staf sekolah, sementara insiden serupa melukai satu staf sekolah di pinggiran Paris dan seorang petugas polisi di luar sekolah di Marseille.
Di luar dinamika unjuk rasa, polisi menangkap seorang remaja berusia 14 tahun di dekat Marseille pada Senin, setelah seorang kepala sekolah menengah dan seorang guru tertembak senapan berburu. Polisi memperlakukan kasus penembakan ini sebagai kejadian terpisah yang tidak berkaitan dengan aksi protes pelajar.
Meski sebagian besar aksi berjalan damai, para siswa menegaskan komitmen mereka untuk terus mendesak pemerintah menuntaskan berbagai persoalan kronis, seperti krisis guru yang sering absen, bangunan sekolah yang rusak, hingga jadwal kelas yang terlalu padat.
“Suara siswa kurang didengar… begitu pula usulan mereka kepada pihak berwenang dan pejabat terpilih,” ujar seorang siswa desain grafis berusia 19 tahun di Paris, Leo.
Leo menambahkan para demonstran, yang banyak di antaranya masih di bawah umur, merasa terganggu oleh tingkat tindakan represif yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap gerakan pelajar.
Organisasi hak asasi manusia dan kelompok siswa menuding pihak kepolisian menggunakan kekuatan secara berlebihan. Selama gelombang protes, seorang demonstran muda dilaporkan kehilangan tangannya akibat ledakan granat kejut polisi, seorang siswa kehilangan beberapa giginya akibat tembakan selongsong gas air mata dari jarak dekat, dan satu siswa lainnya mengalami kehilangan penglihatan pada salah satu matanya.
Kementerian Kehakiman mencatat lebih dari 6,800 orang, sebagian besar anak di bawah umur, telah diamankan ke kantor polisi sepanjang gelombang protes berlangsung. Pihak kepolisian pun telah membuka penyelidikan internal terhadap 24 tuduhan dugaan kekerasan aparat terhadap para pengunjuk rasa.
Guna meredam tensi, pemerintah berjanji menerjunkan sekitar 3.000 guru pengganti dalam beberapa hari mendatang untuk menggantikan staf yang absen di 114 sekolah menengah atas yang terdampak paling parah. Juru bicara pemerintah mengonfirmasi penempatan guru-guru tersebut telah mulai berjalan.
Namun, serikat siswa nasional menolak langkah pemerintah tersebut dan menilainya sekadar “rekahan kecil” (crumbs). Mereka menuntut peningkatkan anggaran sebesar 10 miliar euro untuk sekolah menengah atas.
Presiden Emmanuel Macron mengimbau para pengunjuk rasa untuk menahan diri dan menyatakan bahwa penanganan masalah fasilitas serta staf sekolah membutuhkan waktu.
“Ini adalah isu-isu yang membutuhkan waktu, konsultasi, diskusi, dan rasa hormat,” ujar Presiden Emmanuel Macron kepada wartawan pada Senin.
Rangkaian demonstrasi pelajar pada hari Selasa ini rencananya akan dilanjutkan dengan unjuk rasa masyarakat yang lebih luas pada hari Sabtu mendatang guna menentang lonjakan biaya hidup. (AFP/Z-2)
