Kembangkan Inovasi Pendidikan hingga Teknologi, BRIN Tekankan Kolaborasi RI-Belanda
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria menilai untuk menghadapi perkembangan teknologi yang pesat, transformasi ekonomi, perubahan iklim, hingga tantangan global diperlukan empat elemen ekosistem inovasi yang kuat.

“Pondasi tersebut berupa pengembangan sumber daya manusia, kolaborasi lintas sektor dan disiplin ilmu, penerjemahan pengetahuan menjadi inovasi, serta keberlanjutan dan inklusi,” kata Arif Satria dalam Konferensi The Week of Indonesia-Netherlands Education and Research (WINNER) 2026 dikutip pada Minggu (11/10).

Perkembangan inovasi harus didukung oleh banyak pihak, salah satunya kolaborasi antara Indonesia dengan Belanda di bidang pendidikan, penelitian, teknologi, dan inovasi. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk menghadapi perkembangan teknologi, transformasi ekonomi, perubahan iklim, serta berbagai tantangan global.

“Pendidikan, penelitian, dan inovasi menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kompetitif dan tangguh. Daya saing tidak cukup diukur dari kemampuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga harus mencakup ketangguhan, inklusivitas, inovasi, dan keberlanjutan,” ujar dia.

Pada WINNER 2026 berbagai inisiatif dan topik kolaborasi Indonesia dengan Belanda dibahas, mulai dari riset ekonomi biru, Green Batik, pemanfaatan QGIS, digital twins Nusantara, hingga pendidikan sanitasi dan infrastruktur riset. 

Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Brian Yuliarto, berharap WINNER 2026 membuka peluang baru, menghasilkan gagasan baru, dan membangun hubungan yang lebih kuat antara masyarakat dan institusi Tanah Air. 

“Mari jadikan kemitraan ini tidak hanya lebih kuat, tetapi juga lebih berdampak dengan mengubah pengetahuan menjadi solusi, kolaborasi menjadi inovasi, dan inovasi menjadi kemajuan bagi masyarakat kita,” ujar Brian.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda Laurentius Amrih Jinangkung turut menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan kemitraan kedua negara. Menurutnya, dampak WINNER tidak hanya ditentukan oleh jumlah sesi atau peserta, tetapi juga oleh kemitraan, pengetahuan, dan gagasan yang terus berkembang setelah program berakhir.

“Dampak WINNER tidak hanya diukur dari jumlah sesi atau peserta. Dampaknya diukur dari kemitraan yang berhasil dibangun, pengetahuan yang dapat kita bagikan, dan gagasan yang terus berkembang jauh setelah program berakhir,” ujar Laurentius.

Semangat kolaborasi Indonesia-Belanda juga tercermin dalam berbagai pencapaian di luar ruang akademik. Dalam sambutan penutupan WINNER 2026, Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, Aulia Iskandarsyah, menyoroti kemenangan tim nasional Indonesia di ASEAN FIFA Cup 2026 setelah penantian 35 tahun. 

“Kita juga telah melihat bagaimana kolaborasi dapat mewujudkan hal-hal yang sebelumnya tampak mustahil. Dalam sepak bola, kemenangan tim nasional Indonesia di ASEAN FIFA Cup 2026 setelah penantian selama 35 tahun menjadi contoh inspiratif tentang apa yang dapat dicapai melalui ketekunan, tujuan bersama, dan kerja sama yang efektif antara Indonesia dan Belanda.

Semangat yang sama juga berlaku dalam bidang pendidikan, riset, dan inovasi. Kita harus berani membayangkan hal-hal yang belum berhasil kita capai, sekaligus berkomitmen untuk terus bekerja sama hingga hal tersebut menjadi kenyataan,” pungkasnya.(H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *