UMKM Maluku Utara Tumbuh dari Kemitraan dengan Kawasan Industri
UMKM di Maluku Utara berkembang bersama kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).(Dok.IWIP)

PERKEMBANGAN kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Maluku Utara untuk masuk ke rantai pasok industri. Kebutuhan operasional kawasan mendorong sejumlah usaha lokal memperluas pasar, meningkatkan kapasitas produksi, hingga menyerap tenaga kerja.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan peluang tersebut ialah Suhendra, pemilik CV Satu Tiga Berjaya. Ia mengawali usaha secara perorangan dengan menjual ayam beku sebelum kemudian berkembang menjadi pemasok berbagai kebutuhan pangan bagi kawasan IWIP.

“Tahun 2021, saat IWIP sedang membutuhkan pemasok bahan pangan untuk operasional kawasan, saya mendapat kesempatan untuk menawarkan produk yang kami miliki. Dari situlah kemudian saya mendirikan CV Satu Tiga Berjaya dan menjadi mitra industri,” ujar Suhendra.

Perjalanan usaha Suhendra dimulai kembali pada 2018 setelah bisnis sebelumnya mengalami kebangkrutan. Dari skala kecil, ia kemudian menyesuaikan usaha dengan kebutuhan pasar serta menjaga kualitas produk dan pelayanan.

Kini, CV Satu Tiga Berjaya memasok berbagai produk pangan, mulai dari makanan beku, daging, hingga makanan laut. Pengiriman ke kawasan IWIP dilakukan sekitar lima hingga enam kali dalam sepekan dengan dua hingga tiga kendaraan berkapasitas 4–5 ton setiap kendaraan.

Pertumbuhan usaha tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Saat ini, CV Satu Tiga Berjaya mempekerjakan 34 orang yang berasal dari sejumlah wilayah di Maluku Utara, seperti Ternate, Sanana, Jailolo, Makean, Weda, dan sejumlah desa lainnya.

Suhendra juga mulai menjajaki kerja sama dengan pelaku usaha dari berbagai desa di Maluku Utara untuk memperluas jaringan pasok. Ia berharap semakin banyak UMKM memperoleh kesempatan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi kawasan industri.

“Harapan saya, ke depan semakin banyak UMKM dan mitra usaha lainnya yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan saling mendukung,” kata Suhendra.

Keterlibatan UMKM lokal dalam rantai pasok IWIP tercermin dari realisasi belanja kepada UMKM. Pada kuartal II 2026, belanja IWIP kepada UMKM mencapai Rp1,1 triliun. Sebanyak 77,6% dari belanja tersebut direalisasikan di wilayah Maluku Utara.

General Manager External Relations IWIP Yudhi Santoso mengatakan, perkembangan kawasan industri perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekosistem usaha lokal. Menurut dia, aktivitas industri menciptakan kebutuhan yang dapat diisi oleh pelaku usaha di daerah.

“Industri tidak berdiri sendiri. Di dalamnya ada banyak kebutuhan dan peluang yang dapat melibatkan pelaku usaha lokal. Kami ingin keterlibatan UMKM lokal terus berkembang sehingga manfaat dari aktivitas industri dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di Maluku Utara,” ujar Yudhi.

Pertumbuhan CV Satu Tiga Berjaya mendapat apresiasi melalui Best Local Community Impact Award yang diberikan IWIP pada kegiatan Diseminasi Kebijakan Kemitraan Usaha Nasional dalam rangka Penanaman Modal, 1 September 2026.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas keterlibatan mitra usaha lokal dalam mendukung aktivitas kawasan industri. Bagi Suhendra, perjalanan dari usaha perorangan hingga menjadi mitra industri menunjukkan bahwa akses terhadap peluang pasar dapat menjadi penggerak pertumbuhan UMKM.

Perkembangan kemitraan tersebut diharapkan semakin memperluas keterlibatan pelaku usaha Maluku Utara dalam rantai pasok industri sekaligus meningkatkan dampak ekonomi kawasan terhadap masyarakat setempat. (E-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *