
AKTIVITAS di dalam tubuh Gunung Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan dinamika peningkatan kegempaan meskipun aktivitas di permukaan cenderung stabil. Berdasarkan evaluasi periode 16-30 September 2026, tercatat adanya kenaikan signifikan pada jumlah gempa vulkanik dalam.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa selama periode tersebut, gempa vulkanik dalam meningkat menjadi 92 kejadian, naik dari 78 kejadian pada periode sebelumnya. Peningkatan ini mengindikasikan ada aktivitas rekahan atau perubahan tekanan pada bagian yang lebih dalam di tubuh gunung api.
Analisis Kegempaan dan Dinamika Fluida
Data pengamatan menunjukkan aktivitas gempa vulkanik dalam mencapai puncaknya pada 16 September dengan 12 kejadian, 19 September sebanyak 14 kejadian, dan kembali menyentuh angka 10 kejadian pada 22 September. Tren ini kemudian diikuti oleh kenaikan gempa frekuensi rendah yang mencapai total 70 kejadian, terutama pada akhir September.
Lana menjelaskan bahwa pola peningkatan gempa frekuensi rendah, yang sempat mencapai 10 kejadian pada 28 September, menunjukkan adanya dinamika fluida atau gas pada zona dangkal. Meski demikian, indikasi ini belum memicu aktivitas erupsi secara langsung.
“Peningkatan itu belum diikuti gempa letusan, peningkatan gempa hembusan secara signifikan, maupun perubahan deformasi yang menunjukkan peningkatan tekanan secara luas di tubuh gunung,” ujar Lana dalam keterangan resminya.
Kondisi Permukaan dan Status Aktivitas
Sepanjang September 2026, tidak tercatat aktivitas erupsi atau gempa letusan di Gunung Lewotobi Laki-Laki. Beberapa catatan kegempaan lain meliputi:
- Tremor Non-Harmonik: Menjadi jenis kegempaan dominan dengan 269 kejadian.
- Gempa Hembusan: Tercatat 31 kejadian, menurun dibandingkan periode 1-15 September (42 kejadian).
- Gempa Harmonik: Mengalami kenaikan dari tiga menjadi delapan kejadian, namun belum menunjukkan tren peningkatan yang berkelanjutan.
Hingga saat ini, pemantauan deformasi belum menunjukkan ada inflasi atau penggembungan tubuh gunung yang konsisten, yang biasanya menjadi indikator peningkatan tekanan magma secara luas.
Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki tetap berada pada Level II (Waspada). Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk:
- Tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
- Mewaspadai potensi banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung saat terjadi hujan lebat.
- Menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu guna menghindari gangguan sistem pernapasan.
Badan Geologi akan terus melakukan pemantauan secara intensif untuk mengevaluasi potensi ancaman bahaya dari aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung tersebut. (I-2)
