
LINGKUNGAN diplomatik dan komunitas pencinta seni Indonesia di Canberra, Australia, menggelar workshop di Wisma Duta Besar Republik Indonesia. Kegiatan ini diadakan sekaligus untuk memeringati Hari Batik Nasional itu diikuti 35 peserta.
Para peserta mendapatkan pengalaman melukis batik dengan motif Nusantara di atas tote bag kain. Acara yang dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia Siswo Pramono serta dihadiri juga oleh Prof. Ariesa Pandanwangi dari Universitas Kristen Maranatha, dan Cama Juli Rianingrum dari Universitas Trisakti.
Selain itu tim delegasi juga didukung oleh Kartika dan Tasya Andari sebagai tim perlengkapan dan dokumentasi. Program Workshop International Batik Tamarind ini, para peserta berkumpul bukan sekadar untuk mengenal batik Indonesia, tetapi juga mencoba langsung proses membatik dengan motif batik Nusantara.
Mereka diperkenalkan dengan beragam inspirasi motif batik Nusantara. Dalam penjelasannya, Ariesa menerangkan mengenai pengembangan batik dan pentingnya inovasi yang memperhatikan aspek lingkungan. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting agar warisan budaya Indonesia ini tetap berkembang.
“Harus tetap relevan dengan perkembangan masyarakat global,” kata Prof. Ariesa Pandanwangi dari Universitas Kristen Maranatha dalam keterangannya, Rabu (7/10).
Dalam kesempatan tersebut, Cama Juli Rianingrum dari Universitas Trisakti memperkenalkan kekayaan motif batik Nusantara sekaligus nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Batik membawa pesan mengenai identitas Indonesia sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat internasional,” katanya.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia Siswo Pramono mengatakan peringatan Hari Batik Nasional menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan batik Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Bersamaan dengan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, momentum ini menjadi tepat sekaligus sebagai momentum memperkenalkan pengembangan batik dengan menggunakan material ramah lingkungan, yaitu dari tamarind atau asam Jawa,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mengajak peserta terlibat langsung dalam proses kreatif. Setelah mendapatkan berbagai penjelasan dari narasumber, peserta menuangkan kreativitas melukis batik pada tote bag yang telah disiapkan. Pengalaman ini memberikan cara yang berbeda untuk mengenal Indonesia.
Batik tidak hanya dipandang sebagai kain tradisional, tetapi dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui praktik membuat motif di atas tote bag, peserta tidak hanya melihat batik sebagai sebuah karya dari Indonesia, tetapi juga merasakan secara langsung proses kreatif di baliknya. Kegiatan ini menjadi semakin menarik karena peserta berasal dari lingkungan diplomatik internasional.
Mereka memiliki kesempatan untuk mengenal salah satu warisan budaya Indonesia melalui pengalaman langsung dan suasana yang lebih akrab. Terlebih, batik memainkan peran lebih luas karena menjadi bahasa budaya yang dapat mempertemukan orang-orang dari berbagai negara tanpa harus melalui ruang diplomasi yang formal.
Workshop Batik Tamarind di Canberra ini pun menjadi salah satu contoh diplomasi budaya dapat dilakukan melalui seni dan kreativitas. Terlebih, pengembangan batik dengan memperhatikan material ramah lingkungan menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman.
Dari selembar kain hingga sebuah tote bag, motif Nusantara dalam kegiatan tersebut membawa cerita Indonesia ke tengah komunitas internasional di Canberra tentang tradisi, kreativitas, keberlanjutan, dan persahabatan antarbudaya. (BY/E-4)
