
SEKRETARIS Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, memberikan tanggapan keras terhadap tudingan yang menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak lulus SMA. Isu ini sebelumnya dilemparkan oleh Denny Indrayana yang menilai Gibran layak didiskualifikasi karena persoalan administratif pendidikan tersebut.
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Grace menilai pernyataan Denny memiliki kekeliruan mendasar dalam memahami sistem pendidikan internasional. Menurutnya, publik tidak bisa memaksakan nomenklatur pendidikan Indonesia untuk membaca sistem pendidikan di negara lain.
Perbedaan Jalur Pendidikan Internasional
Grace menjelaskan bahwa jalur pendidikan di Indonesia yang bersifat linear (SMP ke SMA kelas 10-12) berbeda dengan sistem di luar negeri. Ia menyebutkan bahwa Gibran menempuh pendidikan di tiga negara, yakni Indonesia, Singapura, dan Australia, yang masing-masing memiliki mekanisme berbeda seperti O Level, A Level, foundation, pathway, hingga diploma.
“Pernyataan itu punya masalah yang sangat mendasar, yaitu kita sedang memaksakan sistem pendidikan Indonesia untuk membaca sistem pendidikan di negara lain,” ujar Grace.
Sebelumnya Denny bersikukuh bahwa Gibran tidak tamat SMA atau sederajat. Alasannya, di UTS Insearch yang ada adalah Certificate of Attendance dan transkrip, bukan surat ijazah atau tanda tamat.
Grace pun membalas dengan pertanyaan sederhana. Jika logika itu diterapkan secara konsisten, bagaimana nasib anak-anak Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri dan masuk universitas melalui jalur pathway, foundation, diploma, atau sistem lain yang tidak mengenal ijazah SMA seperti di Indonesia?
“Apakah anak-anak ini mau dianggap tidak tamat SMA?” kata Grace.
Mekanisme Penyetaraan Kemendikdasmen
Grace menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memiliki mekanisme penyetaraan bagi siswa lulusan luar negeri. Dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, pihak kementerian telah menjelaskan bahwa penyetaraan tidak hanya terpaku pada satu lembar ijazah SMA, melainkan melalui evaluasi transkrip nilai dan capaian pembelajaran.
“Di situ kita bisa melihat dari transkrip, mata pelajaran apa yang sudah diambil, kemudian capaian pembelajaran dan kesinambungan pendidikannya,” tambah Grace.
Ia juga mempertanyakan dampak logika Denny Indrayana jika diterapkan pada ribuan anak Indonesia lainnya yang menempuh jalur pathway atau foundation di luar negeri. Menurutnya, memaksakan standar domestik terhadap sistem internasional tanpa memahami konteks penyetaraan adalah bentuk pembodohan publik. (I-1)
