
IRAN menegaskan komitmennya untuk tetap menutup Selat Hormuz kecuali Amerika Serikat (AS) menyetujui tujuh tuntutan utama. Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat, saat pejabat Teheran menjanjikan respons yang lebih kuat terhadap setiap tindakan militer baru dari pihak lawan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan pada Minggu (5/10) bahwa posisi Teheran saat ini sudah jelas dan tegas. Ia memperingatkan AS agar tidak lagi mencoba mendikte tuntutan sepihak melalui mediator.
“Posisi Republik Islam Iran sepenuhnya jelas dan teguh. Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat kami, yang didasarkan pada Nota Kesepahaman Islamabad, dipenuhi,” tegas Qalibaf.
Peringatan Keras Teheran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut memberikan peringatan serupa dengan menyatakan bahwa tidak ada solusi militer maupun solusi berbasis sanksi baru untuk mengakhiri konflik ini. Ia menekankan bahwa jika musuh memilih jalur konfrontasi militer, Iran akan membela diri dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.
Pekan lalu, Iran sempat menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan program nuklir dalam waktu tujuh hari. Namun, tawaran tersebut memiliki syarat ketat bagi Amerika Serikat, antara lain:
- Mengangkat blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran.
- Mematuhi gencatan senjata yang mencakup wilayah Lebanon.
Kegagalan Tenggat Waktu
Araghchi sebelumnya merinci proposal tersebut di hadapan wartawan di luar Dewan Keamanan PBB pada 25 September. Ia menjelaskan bahwa proses pembukaan selat akan memakan waktu sekitar empat hingga lima hari setelah AS menerima rencana tersebut dan pembicaraan nuklir akan dimulai pada hari ketujuh.
Namun, tenggat waktu tujuh hari tersebut berlalu pada Jumat lalu tanpa ada tanda-tanda pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yaitu seperlima dari perdagangan minyak dan gas dunia melintas sebelum pecahnya konflik.
Dampak Global dan Politik
Gangguan di Selat Hormuz menjadi instrumen pengaruh utama bagi Iran. Dampaknya dirasakan jauh melampaui Timur Tengah, termasuk memicu kenaikan harga minyak yang memicu inflasi global. Situasi ini juga menjadi tantangan politik bagi Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu Kongres pada November mendatang.
Saat ini, Iran menuntut AS untuk mematuhi kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni lalu. Kesepakatan berdurasi 60 hari tersebut sebelumnya runtuh setelah Iran melanjutkan serangan terhadap pengiriman di selat tersebut. Di sisi lain, Trump menyatakan tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan baru, meskipun tekanan ekonomi akibat harga energi terus meningkat.
Ketegangan semakin diperparah dengan aksi saling tuduh terkait pelanggaran kesepakatan Juni. AS dan Israel tercatat telah menyerang Iran sebanyak dua kali saat pembicaraan nuklir sedang berlangsung, yang semakin memperdalam ketidakpercayaan di antara kedua belah pihak. (The Daily Express/I-2)
