
DEKAN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, merespons penunjukan Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Wahyudi mengungkapkan bahwa penyatuan koordinasi ini sangat krusial mengingat ekspansi industri pengolahan mineral membutuhkan pasokan energi dalam jumlah yang sangat besar.
“Ini sangat strategis karena hilirisasi mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar. Tantangannya adalah memastikan tambahan kapasitas industri tidak justru meningkatkan ketergantungan pada energi fosil. Hilirisasi dan transisi energi perlu dirancang dalam satu ekosistem agar pertumbuhan industri diikuti penyediaan energi yang semakin efisien, andal, dan rendah karbon,” ujar Wahyudi saat dihubungi, Minggu (4/10/2026).
Wahyudi menggarisbawahi realisasi investasi hilirisasi pada Semester I 2026 yang telah menembus Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Keberhasilan lonjakan produksi nikel olahan dari 22 ribu ton pada 2014 menjadi 1,4 juta ton (41 persen produksi dunia), beroperasinya Smelter Freeport Gresik berkapasitas 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun, serta keberadaan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun, harus dimanfaatkan Bahlil untuk memperkuat industri manufaktur hulu-hilir, kendaraan listrik, hingga transfer teknologi nasional.
Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (Unbraw), Wardana, menilai bahwa integrasi hilirisasi mineral strategis seperti nikel, bauksit, dan tembaga berpotensi membentuk ekosistem produksi energi hijau nasional. Selain hilirisasi, ia menekankan pentingnya kemandirian energi sebagai tolok ukur utama keberhasilan Menko Bahlil.
Wardana mendorong penguatan program B50 yang dipadukan dengan percepatan bioetanol berbasis bahan baku lokal seperti tebu, singkong, dan jagung guna merealisasikan target E20, E30, hingga E50.
“Sangat strategis karena hilirisasi mineral strategis bisa membentuk ekosistem produksi energi hijau. Jika program tanam tebu, singkong, dan jagung untuk etanol berhasil dan bisa membuat program E20, E30, atau E50 berhasil, bersama dengan B50 kita sudah bisa mandiri energi, tidak perlu impor BBM,” kata Wardana.
Ia menambahkan, penghentian atau pengurangan impor energi harus dijadikan indikator keberhasilan paling utama dalam mengukur kinerja Bahlil Lahadalia, diikuti dengan pembukaan lapangan kerja baru serta efektivitas alih teknologi bagi tenaga kerja lokal.
“Yang paling utama adalah pengurangan impor energi karena menyedot banyak devisa. Berikutnya adalah pembukaan lapangan kerja, yang ketiga transfer teknologi, baru yang lain-lainnya,” pungkasnya.(H-2)
