
JEPANG melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat (AS) setelah seorang marinir AS ditangkap atas dugaan membunuh dan merampok seorang perempuan Jepang di Okinawa, Minggu (4/10).
Lance Corporal Devin Jacob Ballard, 20, ditangkap polisi Okinawa karena diduga membunuh Anna Yagi, 39, di sebuah hotel di Naha, ibu kota Prefektur Okinawa. Polisi juga menuduh Ballard mengambil dompet dan tas korban. Ballard membantah tuduhan tersebut.
Ballard merupakan anggota Korps Marinir AS yang ditempatkan di Marine Corps Air Station Futenma, Okinawa. Ia ditangkap sekitar pukul 01.00 waktu setempat pada Minggu.
Polisi mengatakan Yagi diduga tewas di hotel pada Sabtu dini hari. Rekaman kamera pengawas menunjukkan Yagi memasuki hotel bersama Ballard. Ballard kemudian terlihat meninggalkan hotel seorang diri.
Peristiwa itu segera memicu reaksi keras pemerintah Jepang. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pemerintah telah menyampaikan protes kuat kepada pihak AS.
“Terjadinya insiden yang sangat brutal dan keji seperti ini merupakan hal yang sangat disesalkan,” kata Takaichi.
Ia menegaskan Jepang menuntut kerja sama maksimal dalam penyelidikan serta meminta pengetatan disiplin terhadap personel militer AS dan langkah menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi juga mengecam kasus tersebut.
“Insiden seperti ini tidak dapat diterima dan saya sangat marah,” ujar Koizumi, seperti dikutip lembaga penyiaran NHK.
Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan insiden tersebut menimbulkan kemarahan mendalam dan meminta AS memperketat disiplin personelnya.
Dari pihak AS, Kedutaan Besar AS di Tokyo menyatakan seorang personel militer berada dalam tahanan Jepang. AS mengatakan penyelidikan sedang berlangsung untuk mengungkap fakta kasus dan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Jepang serta otoritas setempat. Korps Marinir AS juga menyatakan serius menanggapi dugaan tindak pidana tersebut.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan lama terkait keberadaan militer AS di Okinawa. Sekitar 18.000 marinir AS ditempatkan di Jepang dan sebagian besar berada di Okinawa. Kehadiran mereka selama puluhan tahun kerap memicu penolakan warga akibat persoalan keamanan, kecelakaan, kebisingan, dan dugaan tindak kriminal.
Okinawa berada di bawah kendali AS sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga 1972. Salah satu kasus yang memicu kemarahan besar terjadi pada 1995 ketika tiga personel militer AS menculik dan memperkosa seorang siswi Okinawa berusia 12 tahun. Kasus tersebut memicu demonstrasi besar-besaran dan kembali membuka perdebatan mengenai keberadaan pangkalan militer AS di wilayah tersebut. (NBC News/The New York Times/B-3)
