Korban Gempa Nagakeo Diberikan Pendampingan Psikososial
Sobat Sehat dan ILUNI FKM UI berikan pendampingan psikososial dan bantuan logistik bagi warga Desa Waekokak yang trauma.(ILUNI FKM UI)

Tujuh pekan setelah gempa bumi mengguncang Nagekeo, sebagian warga Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, masih berhadapan dengan rasa takut setiap kali tanah kembali bergetar. Pemulihan pascabencana kini tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan fisik rumah dan fasilitas publik, tetapi juga menyasar pemulihan rasa aman dan kesehatan psikologis warga.

Trauma mendalam akibat gempa tersebut mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Melalui aksi nyata yang bersinergi dengan pemerintah, Komunitas Sobat Sehat dan Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (ILUNI FKM UI) turun langsung ke lapangan untuk memulihkan mental para penyintas sekaligus menyalurkan bantuan yang dibutuhkan.

Kondisi ini direspons melalui program “Bantu Sehat: Pulihkan Asa Nagekeo”. Bekerja sama dengan Pemerintah Desa Waekokak dan Puskesmas setempat, serta didukung oleh ILUNI FKM UI dan Priority, Sobat Sehat memberikan bantuan kebutuhan dasar sekaligus pendampingan psikososial bagi warga dewasa dan anak-anak terdampak.

Dampak Gempa dan Masa Transisi

Gempa berkekuatan 7,7 M yang terjadi pada 15 Agustus 2026 telah meninggalkan dampak signifikan. Hingga pertengahan September, pemerintah daerah mencatat sekitar 14.000–15.000 gempa susulan, dengan 185 di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat. Setelah status tanggap darurat berakhir pada 27 September 2026, Nagekeo kini memasuki masa transisi darurat menuju pemulihan.

Founder Komunitas Sobat Sehat sekaligus Sekretaris Jenderal ILUNI FKM UI, Sri Gusni, menekankan bahwa pemulihan fisik dan psikologis tidak dapat dipisahkan. “Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman juga harus dipulihkan, terutama bagi anak-anak yang akan membawa pengalaman ini hingga dewasa,” ujar Gusni dalam keterangan resmi, Jumat (2/10).

Kekuatan Doa dan Kebersamaan

Kegiatan pemulihan diawali dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh Romo Yanto Soka dan Ustaz Asrul. Warga Katolik dan Muslim Desa Waekokak berdiri berdampingan mendoakan keselamatan Nagekeo. Momen ini menjadi simbol bahwa kebersamaan dan iman adalah sumber kekuatan utama warga dalam menghadapi musibah.

“Bencana ini menguji kita semua, tetapi juga mengingatkan bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan hadir melalui tangan-tangan yang datang menolong,” tutur Romo Yanto. Senada dengan itu, Ustaz Asrul mengajak warga untuk menjaga ketabahan. “Hari ini kita berdoa bersama sebagai saudara, tanpa sekat,” tambahnya.

Pendampingan Psikososial dan Ruang Bermain

Tim di lapangan melakukan aktivitas psikososial bagi orang dewasa melalui edukasi reaksi pascabencana dan latihan pengelolaan kecemasan. Sementara itu, anak-anak difasilitasi dengan ruang bermain aman, kegiatan menggambar, dan mendengarkan dongeng sebagai medium ekspresi trauma.

“Anak-anak sering kali menyimpan rasa takutnya dalam diam. Lewat gambar dan permainan, mereka bisa mengungkapkan apa yang sulit diucapkan,” jelas Siti Kholidiyatus Sa’diyah. Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menjaga rutinitas dan memberikan rasa aman melalui kehadiran fisik yang konsisten.

Keberlanjutan Layanan Kesehatan

Agar pemulihan bersifat jangka panjang, tim Sobat Sehat berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk merujuk warga yang membutuhkan penanganan lanjutan. Pendekatan ini bertujuan memperkuat peran layanan kesehatan primer dalam manajemen bencana di tingkat desa.

Selain dukungan mental, disalurkan pula bantuan logistik berupa:

  • Kebutuhan pangan dan air mineral.
  • Alas tidur dan perlengkapan kebersihan.
  • Alat tulis untuk mendukung aktivitas belajar anak-anak.

Sri Gusni menegaskan bahwa pertahanan kesehatan di wilayah rawan bencana harus dibangun dari bawah. “Warga dan komunitas adalah pihak pertama yang hadir saat bencana, dan pihak yang paling lama tinggal untuk memulihkannya,” pungkasnya. Bagi warga Waekokak, keberanian untuk kembali merasa aman adalah langkah terpenting dalam menatap hari esok. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *