
KONDISI baterai menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen sebelum membeli mobil listrik bekas. Selain harga, calon pembeli mulai mencari informasi mengenai kondisi baterai, garansi, biaya perawatan, hingga biaya penggunaan kendaraan.
Pemilik Garasi 91 sekaligus pengamat dan penggiat otomotif, Ferdian Kusuma Putra, mengatakan konsumen kendaraan bekas kini tidak lagi hanya mempertimbangkan harga pembelian. Mereka mulai menghitung biaya yang harus disiapkan setelah kendaraan menjadi milik mereka.
“Sekarang konsumen tidak berhenti di pertanyaan harga. Mereka mulai bertanya setelah mobil dibeli, biaya perawatannya berapa, konsumsi hariannya bagaimana, sampai kalau nanti dijual kembali nilainya seperti apa. Artinya, yang dihitung bukan lagi hanya harga beli, tetapi biaya memiliki kendaraan secara keseluruhan,” ujar Ferdian.
Pada mobil listrik bekas, pertanyaan konsumen mulai mengarah pada kondisi baterai, biaya pengisian daya, masa garansi, perawatan hingga ketersediaan layanan purnajual. Hal tersebut menjadi perhatian karena baterai merupakan salah satu komponen yang diperhitungkan calon pembeli sebelum menentukan kendaraan. Salah satu konsumen, Chintia Aswanti, 31, mengaku sempat ragu ketika pertama kali mempertimbangkan mobil listrik bekas. Kekhawatiran soal baterai dan biaya perawatan membuatnya lebih dulu membandingkan sejumlah pilihan.
“Awalnya saya justru takut membeli mobil listrik bekas karena berpikir kalau ada masalah baterai pasti mahal. Setelah dihitung, ternyata yang lebih penting bukan hanya harga mobilnya, tetapi kondisi baterainya, garansi dan biaya pemakaian sehari-hari. Dari situ saya merasa mobil listrik bekas ternyata layak dipertimbangkan,” kata Chintia.
Menurut Ferdian, masuknya mobil listrik ke pasar kendaraan bekas juga membuat konsumen membutuhkan informasi yang lebih detail sebelum mengambil keputusan. Mobil listrik bekas mulai dilirik konsumen, tetapi sejauh ini pilihannya masih sangat selektif.
“Konsumen biasanya lebih banyak menggali informasi soal kondisi baterai, biaya perawatan dan penggunaan hariannya. Di sisi lain, mobil konvensional bekas masih memiliki pasar dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat karena konsumen sudah lebih familiar dengan biaya perawatan, ketersediaan suku cadang maupun layanan servisnya,” katanya.
Pada kendaraan konvensional bekas, konsumen umumnya lebih dulu mempertimbangkan konsumsi bahan bakar, servis berkala, suku cadang dan potensi biaya perbaikan. Sementara pada mobil listrik bekas, pertimbangan tersebut berkembang dengan adanya kebutuhan untuk mengetahui kondisi baterai dan biaya pengisian daya.
Dengan demikian, pilihan konsumen di pasar kendaraan bekas tidak hanya berkaitan dengan harga. Kondisi kendaraan, biaya kepemilikan, kebutuhan penggunaan, garansi dan prospek nilai jual kembali turut menjadi pertimbangan sebelum konsumen menentukan kendaraan yang akan dibeli. (E-4)
