Wamenkes: Pemeriksaan Kontak Erat Serumah Kunci Putus Rantai TBC di Sidoarjo
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr Benjamin Paulus Octavianus di Sidoarjo.(Dok. MI)

WAKIL Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr Benjamin Paulus Octavianus menyoroti pentingnya pemeriksaan kontak erat serumah pasien tuberkulosis (TB). Menurutnya, pengobatan pasien saja belum cukup untuk memutus rantai penularan TB secara efektif.

Hal itu disampaikan Benjamin saat memaparkan strategi penanggulangan TB di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, Selasa (29/9). Ia menyebut strategi pemberantasan TB ke depan harus lebih menitikberatkan pada pemeriksaan orang-orang yang tinggal serumah dengan pasien. Dalam kunjungan tersebut, Wamenkes didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus dan Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana setelah sebelumnya meninjau Rumah Sakit Umum Daerah Notopuro Sidoarjo.

“Kalau kita hanya mengobati yang sakit, TBC tidak akan habis. Orang yang serumah wajib diperiksa dan kalau memenuhi kriteria harus mendapatkan obat pencegahan,” kata Benjamin dalam sambutannya di Pendopo Pemkab Sidoarjo.

Benjamin menjelaskan, pada tahun lalu terdapat sekitar lima ribu orang di Sidoarjo yang terkonfirmasi sakit TB dan mendapatkan pengobatan. Jika setiap pasien rata-rata tinggal bersama empat orang, maka terdapat sekitar 20 ribu orang yang menjadi sasaran pemeriksaan kontak erat.

Pemerintah bahkan telah menyiapkan anggaran untuk menjangkau sekitar 27 ribu orang. Tambahan sasaran tersebut disiapkan untuk menjangkau lingkungan sekitar pasien di luar anggota keluarga inti.

“Kalau mau mancing, ya di kolam. Yang paling berisiko itu orang serumah, bukan tetangga yang jauh,” ujarnya mengibaratkan fokus sasaran pemeriksaan.

Tantangan Terapi Pencegahan

Menurut Benjamin, persoalan TB bukan semata-mata kemampuan mengobati. Tingkat penemuan dan pengobatan TBC secara nasional saat ini sudah mencapai sekitar 80 persen, bahkan Jawa Timur mencapai angka 93 persen.

Namun, upaya pemberian Terapi Pencegahan TB (TPT) masih tergolong rendah. Data menunjukkan cakupan TPT nasional pada 2022 hanya sekitar satu persen, naik menjadi dua persen pada 2023, dan mencapai 17 persen pada tahun lalu. Saat ini, angkanya berada di kisaran 12 persen.

“Yang belum hebat adalah mencegah. Kita sudah hebat mengobati, tapi kalau kontak erat tidak diperiksa dan tidak mendapatkan pencegahan, kasus baru akan terus muncul,” jelasnya.

Ia mencontohkan kasus di Kabupaten Bandung yang memiliki sekitar 15 ribu kasus TB per tahun. Meski tingkat pengobatannya mencapai 97 persen, jumlah kasus baru tetap stabil di angka yang sama karena sumber penularan dan kontak eratnya tidak dikejar secara maksimal.

Dukungan Fasilitas dan Kader

Menanggapi arahan pusat, Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana menyampaikan bahwa pemerintah pusat akan memberikan dukungan pembangunan fasilitas kesehatan di wilayahnya. Selain itu, terdapat alokasi honor untuk ratusan kader puskesmas.

“Kabar baiknya bahwa pemerintah akan memberikan bantuan untuk membangun puskesmas di 15 titik. Pemerintah juga memberikan bantuan berupa honor untuk 565 kader puskesmas senilai Rp500 ribu per bulan per kader,” ungkap Mimik.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina menambahkan bahwa target penemuan kasus TB di Sidoarjo tahun ini mencapai 6.400 kasus. Hingga saat ini, capaian penemuan baru menyentuh angka 59 persen.

Lakhsmie menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor karena TB merupakan masalah masyarakat yang tidak bisa diselesaikan oleh Dinas Kesehatan sendirian. Ia juga menjelaskan pentingnya pemeriksaan ganda bagi kelompok rentan, seperti orang dengan HIV, karena penurunan daya tahan tubuh membuat mereka lebih rentan terinfeksi TB. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *