IHSG Hari Ini Melemah ke 6.118 Akibat Kekhawatiran Inflasi Global
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta( ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU)

INDEKS Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini (29/9) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta pada perdagangan pagi dibuka melemah, sejalan dengan tren negatif yang melanda bursa saham kawasan Asia dan global. Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) menjadi penekan utama pergerakan indeks.

IHSG dibuka terkoreksi 29,05 poin atau 0,47 persen ke posisi 6.118,81. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatatkan penurunan sebesar 4,04 poin atau 0,66 persen ke level 607,77.

Analisis Pasar dan Sentimen Global

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memproyeksikan IHSG akan menguji level support di rentang 6.000 hingga 6.100. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen mancanegara, terutama kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga energi dan beban utang perusahaan untuk pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kondisi tersebut diperparah dengan sinyal kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed yang memicu aksi jual obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) U.S. 10-year Bond naik lebih dari 5 bps ke level 5,234 persen pada Senin (28/9).









Indeks Regional Asia Posisi Perubahan (%)
Nikkei (Jepang) 65.304,00 -0,87%
Hang Seng (Hong Kong) 24.449,24 -0,80%
Shanghai (Tiongkok) 3.815,78 -0,20%
Kospi (Korea Selatan) 6.873,13 -0,24%
Straits Times (Singapura) 5.723,18 -0,10%

Faktor Domestik dan Kebijakan Bank Indonesia

Dari dalam negeri, risiko inflasi kembali membayangi akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dipicu konflik Timur Tengah. Meskipun harga minyak Brent sempat melandai ke level 108 dolar AS per barel setelah perbaikan pipa di Arab Saudi, ketidakpastian tetap tinggi.

Bank Indonesia (BI) saat ini masih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. BI menilai setiap kenaikan suku bunga sebesar 25 bps berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen. Untuk menjaga stabilitas Rupiah tanpa menaikkan suku bunga, BI mengoptimalkan instrumen lindung nilai (hedging).

Catatan Aliran Modal: Insentif hedging yang diterapkan BI selama satu bulan terakhir telah berhasil mendorong aliran modal masuk (capital inflow) sekitar US$ 6 miliar melalui skema Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap.

Investor kini tengah menanti sejumlah data ekonomi penting dari AS pekan ini, termasuk data ketenagakerjaan JOLTS, laporan NonFarm Payrolls (NFP), serta indeks Price Consumer Index (PCE) yang akan dirilis pada Rabu (30/9) sebagai indikator utama inflasi bagi The Fed. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *