Tabrakan Dahsyat Bikin Bulan Es Hancur, Samudra Luarnya Tetap Selamat?
Diagram yang menggambarkan bagaimana tabrakan dapat menghancurkan bulan dan memengaruhi pembentukannya kembali.(Marc Neveu, Universitas Maryland)

WILAYAH Tata Surya luar dikenal sebagai zona yang keras dan penuh risiko benturan kosmik. Selama 4,5 miliar tahun terakhir, berbagai tabrakan dahsyat terus terjadi hingga mampu menghancurkan benda-benda langit berukuran kecil. Namun, studi simulasi terbaru menunjukkan bahwa benturan dahsyat sekalipun tidak selalu memusnahkan potensi samudra cair di dalam bulan-bulan beres tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy ini dipimpin Marc Neveu dari University of Maryland bersama tim ilmuwan dari Southwest Research Institute (Colorado) dan Weizmann Institute (Israel).

“Simulasi yang kami lakukan mencakup jenis tabrakan terbesar yang bisa kami bayangkan,” kata Marc Neveu dalam pernyataannya. “Jika tabrakan sebesar itu saja tidak memberi perbedaan besar, kemungkinan kecil benturan yang lebih kecil akan berdampak.”

Pengaruh Ukuran terhadap Keberadaan Samudra

Para peneliti menggabungkan dua model simulasi utama pada bulan es berdiameter 1.000 kilometer dan 2.000 kilometer. Simulasi pertama memetakan proses kehancuran, pelelehan, hingga pembentukan kembali bulan akibat gravitasi. Sementara itu, simulasi kedua memodelkan kebocoran panas dari inti bulan selama miliaran tahun.

Hasilnya menunjukkan dampak benturan sangat bergantung pada ukuran objek tersebut:

Bulan Berukuran Besar: Tabrakan hebat justru tidak memusnahkan lahar cair bawah tanah. Energi dari dampak benturan dapat mengalirkan panas ekstra yang menebalkan lapisan samudra interior hingga miliaran tahun setelah pecahan bulan menyatu kembali.

Bulan Berukuran Kecil: Bulan yang berdiameter di bawah 1.000 kilometer berisiko kehilangan lautan cairnya. Tabrakan membuat material batuan padat tenggelam ke inti dan menghilangkan lapisan isolasi es-batuan di luar, sehingga panas interior meloloskan diri ke ruang angkasa dan membekukan sisa air.

“Apa yang kami temukan adalah tabrakan besar itu tidak begitu berpengaruh terhadap keberadaan samudra,” ujar Neveu. “Jika sebelumnya ada samudra, kemungkinan besar samudra itu akan tetap ada setelahnya, dan begitu pula sebaliknya.”

Jejak Tabrakan Masa Lalu di Tata Surya

Para ilmuwan mengaitkan hasil temuan ini dengan kondisi nyata di Tata Surya. Salah satu contoh menarik adalah Rhea, bulan terbesar kedua milik Saturnus yang memiliki diameter sekitar 1.528 kilometer. Kawah-kawah di permukaan Rhea tampak melunak seperti struktur boneka salju yang mulai meleleh.

Neveu menjelaskan bahwa keanehan bentuk kawah tersebut tidak disebabkan oleh panas Matahari, melainkan pasokan panas dari dalam inti bulan. Benturan masa lalu diperkirakan telah memicu lonjakan panas internal yang memperpanjang umur samudra di dalamnya.

Meski begitu, Neveu menegaskan tabrakan bukanlah satu-satunya faktor penentu. Panas pasang surut (tidal heating) akibat gravitasi planet raksasa juga memegang peran penting. Hal ini terbukti pada Enceladus, bulan Saturnus berdiameter 500 kilometer yang tetap memiliki lautan cair karena gaya gravitasi Saturnus yang kuat.

Melalui penelitian ini, para astronom berharap simulasi masa depan dapat merekonstruksi sejarah evolusi dan benturan bulan-bulan di sekitar Saturnus, Uranus, hingga Neptune secara lebih presisi. (Space/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *