
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) adalah peristiwa terbakarnya vegetasi hutan dan/atau lahan yang menghasilkan kabut asap tebal, kemudian tersebar mengikuti arah angin dan dapat mencemari udara hingga ratusan kilometer dari sumber kebakaran.
Bagi anak-anak, kondisi ini berarti kualitas udara yang mereka hirup sehari-hari baik di dalam maupun luar rumah dapat memburuk secara signifikan dalam waktu singkat, bahkan di wilayah yang jauh dari titik kebakaran itu sendiri.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan asap karhutla mengandung partikel halus (PM2.5 dan PM10) berdiameter ≤2,5 mikron yang cukup kecil untuk menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah, serta gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO) hasil pembakaran biomassa.
“Karhutla tahun ini diperarah oleh fenomena El Niño dan kekeringan yang meluas, termasuk terbakarnya lahan gambut tropis yang sulit dipadamkan dan dapat terus membara dalam waktu lama, sehingga anak-anak di wilayah terdampak berisiko mengalami paparan asap secara berulang dan berkepanjangan, bukan hanya sesaat,” kata Piprim, Minggu (27/9).
Melihat kondisi tersebut Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI merekomendasikan langkah-langkah pencegahan berikut untuk melindungi anak dari dampak asap karhutla. Pertama, pantau kualitas udara lokal (Air Quality Index/AQI atau Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU) secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api tidak berada di dekat lokasi anak berada, karena asap dapat menyebar hingga ratusan kilometer dari sumbernya.
“Kedua, siapkan ruang bersih (clean room) di rumah/ruangan dengan sedikit jendela dan pintu, dilengkapi alat pembersih udara portabel (bukan tipe ozone-generating). Ketiga, selama kabut asap berlangsung, jaga anak tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup; bila menggunakan AC, atur agar tidak menarik udara segar dari luar (dengan mode closed vent atau air recirculation),” ujar dia.
Keempat, jaga kualitas udara dalam rumah dengan menghindari rokok, kompor gas/kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, memanggang/menggoreng daging, serta menyedot debu (vacuum) semua ini dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan. Kelima, batasi aktivitas fisik berat anak di luar ruangan bila udara terlihat/berbau berasap atau kualitas udara dilaporkan buruk.
Keenam, jika harus keluar rumah, pakai masker bila anak berusia 2 tahun atau lebih untuk mencegah menghirup partikel asap yang berbahaya, dan pakai kacamata untuk mencegah iritasi asap terhadap mata.
Ketujuh, anak dengan asma, alergi, atau kondisi kronis lain berisiko lebih tinggi, pastikan obat rutin (termasuk obat pereda cepat/rescue inhaler) selalu tersedia. Terakhir, segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan/minum. (Z-2)
