
Influenza tipe A dan flu biasa sama-sama menyerang saluran pernapasan, tetapi keduanya berasal dari virus yang berbeda. Meski demikian, keluhan yang muncul pada keduanya dapat terlihat hampir serupa sehingga seseorang terkadang sulit membedakannya hanya dari gejala yang dirasakan.
Perbedaan tersebut penting diperhatikan karena influenza umumnya muncul lebih tiba-tiba dan dapat menimbulkan keluhan yang lebih berat dibandingkan flu biasa. Sementara itu, sebagian besar orang dengan influenza dapat pulih dengan sendirinya dalam sekitar satu minggu.
Lantas, seperti apa gejala yang perlu dikenali dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh pulih saat mengalami influenza tipe A?
Gejala influenza tipe A umumnya muncul secara mendadak dan dapat terasa lebih berat dibandingkan flu biasa. Beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
- Demam tinggi, hingga lebih dari 38°C.
- Sakit kepala, nyeri otot dan sendi.
- Kelelahan ekstrem dan menggigil.
- Batuk kering dan sakit tenggorokan.
- Hidung tersumbat atau berair.
- Nafsu makan menurun.
Gejala dapat berbeda pada setiap orang dan umumnya berlangsung sekitar 3–7 hari. Sementara itu, flu biasa biasanya berkembang lebih bertahap, diawali hidung tersumbat atau berair, bersin, dan sedikit nyeri tenggorokan. Demam pada flu biasa umumnya ringan atau bahkan tidak muncul.
Karena beberapa gejalanya serupa, influenza tipe A tidak selalu mudah dibedakan dari flu biasa hanya berdasarkan keluhan.
Risiko terinfeksi juga dapat meningkat pada orang yang melakukan kontak dekat dengan penderita, memiliki sistem imun lemah, penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung, serta kelompok usia rentan seperti anak di bawah 5 tahun dan lansia di atas 65 tahun.
Setelah mengenali gejalanya, penting mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh menghadapi influenza dan mendukung proses pemulihan.
Sebagian besar kasus influenza tipe A dapat pulih tanpa perawatan khusus di rumah sakit. Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan cairan menjadi langkah penting selama masa pemulihan.
Obat pereda gejala, seperti parasetamol atau ibuprofen, juga dapat digunakan untuk membantu meredakan demam dan nyeri. Pada kondisi yang lebih berat, dokter dapat memberikan obat antivirus seperti oseltamivir atau zanamivir.
Selama sakit, penderita juga perlu mencegah penularan kepada orang lain. Influenza dapat menyebar melalui partikel saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau bernapas, serta melalui tangan yang terkontaminasi.
Karena itu, penderita sebaiknya tetap di rumah, menggunakan masker jika berada di tempat ramai, menjaga ventilasi ruangan, menghindari tempat tertutup dan ramai, serta rutin mencuci tangan.
Kapan Harus ke Dokter?
Tidak semua kondisi influenza dapat ditangani sendiri di rumah. Segera cari pertolongan medis jika muncul:
- Sesak atau sulit bernapas.
- Nyeri atau tekanan yang menetap di dada.
- Kebingungan atau penurunan kesadaran.
- Tidak buang air kecil sebagai tanda kemungkinan dehidrasi.
- Gejala yang sempat membaik kemudian kembali atau semakin parah.
- Kelemahan berat atau kondisi tubuh semakin memburuk.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan pada ibu hamil, lansia, anak kecil, dan orang dengan penyakit kronis karena kelompok tersebut lebih berisiko mengalami komplikasi influenza.
Sumber: World Health Organization, Primaya Hospital, Centers for Disease Control and Prevention, Kementerian Kesehatan
