Kenaikan Yield Global Ujian bagi Kemenkeu dan Bank Indonesia
Ilustrasi.(Antara Foto)

KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kenaikan yield (keuntungan yang diperoleh investor dari saham) global dan meningkatnya harga modal internasional, menjadi ujian bagi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. 

“Kerangka koordinasinya sekarang jauh lebih jelas. Ada lima pilar, yaitu pertumbuhan, ketahanan eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, dan pendalaman pasar keuangan. Tetapi justru karena kerangkanya sudah jelas, pasar sekarang akan segera menguji bagaimana koordinasi itu bekerja dalam kondisi yang sulit,” ujar Fakhrul dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/9).

Menurutnya, ujian pertama akan terlihat di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Dalam kondisi global seperti sekarang, katanya, bukan lagi menjaga yield SBN serendah mungkin, tetapi market-clearing yield Indonesia.

“Pada level berapa investor bersedia menyerap obligasi pemerintah secara natural, tanpa harus terlalu bergantung pada dukungan kebijakan atau likuiditas tambahan,” ujarnya. 

Fakhrul menilai kenaikan yield obligasi domestik tidak selalu berarti penurunan kredibilitas Indonesia. Sebagian kenaikan dapat merupakan konsekuensi dari kenaikan global risk-free rate dan term premium.

“Kita harus membedakan antara kenaikan yield karena repricing global dengan kenaikan Indonesia-specific risk premium. Yang kedua harus dicegah. Tetapi yang pertama tidak selalu bisa ditahan.”

Ia menambahkan, apabila yield domestik dipertahankan terlalu rendah dibandingkan tingkat yang dibutuhkan oleh investor marjinal, tekanan penyesuaian tidak hilang, tetapi dapat berpindah ke kanal lain.

“Kalau harga obligasi tidak cukup menyesuaikan, adjustment bisa berpindah ke foreign demand, ke auction absorption, ke Rupiah, bahkan ke aset berisiko lain seperti pasar saham. Jadi, menahan yield terlalu rendah bukan berarti menghilangkan risiko. Bisa saja hanya memindahkan risikonya.”

Karena itu, kata Fakhrul, proses price discovery di pasar obligasi justru menjadi bagian penting dari stabilitas eksternal. Kalau yield tidak mencerminkan harga modal global, investor asing tidak mendapat kompensasi yang cukup. Pada akhirnya tekanan bisa muncul di Rupiah dan pasar saham yang berujung pada penurunan sentimen dan optimisme dalam perekonomian.

“Dalam konteks itu, membiarkan pasar obligasi menemukan market-clearing yield bisa menjadi bagian dari kebijakan stabilisasi rupiah,” jelasnya.

Ia menilai lima pilar koordinasi yang baru diperjelas sebenarnya menyediakan instrumen yang cukup lengkap untuk mengelola proses tersebut. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *