
LAJU Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (26/9), berakhir di teritori negatif. Tekanan jual ini sejalan dengan tren pelemahan yang melanda mayoritas bursa saham di kawasan Asia, di tengah sikap wait and see investor terhadap dinamika global dan geopolitik.
Berdasarkan data perdagangan bursa, IHSG ditutup melemah 56,72 poin atau 0,90% ke level 6.241,89. Kondisi serupa juga dialami oleh kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang terkoreksi 2,15 poin atau 0,34% ke posisi 621,11 sepanjang sesi perdagangan hari ini.
“Jelang akhir pekan ini, IHSG dan bursa regional Asia cenderung melemah. Pelaku pasar tampaknya terus memantau negosiasi AS dan China yang dapat membuka jalan bagi perjanjian perdagangan baru,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Selain negosiasi dagang, pasar global turut mencerminkan sentimen dari pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington, AS. Pertemuan di Gedung Putih tersebut dilaporkan berfokus pada pembahasan teknologi kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, Presiden Xi Jinping secara terpisah melayangkan desakan kepada Washington agar secara tegas menentang kemerdekaan Taiwan.
Sentimen eksternal lainnya datang dari tingginya harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran inflasi berkelanjutan. Kendati demikian, pasar sempat mendapat angin segar dari wacana kesepakatan bertahap antara AS dan Iran yang berpotensi membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz sekaligus mencabut blokade pelabuhan Iran. Di kawasan Timur Tengah, eskalasi ketegangan tetap membayangi setelah milisi Houthi di Yaman meluncurkan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi, termasuk Kota Yanbu dan Taif.
Dari sektor moneter, investor masih dibayangi proyeksi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan tinggi untuk durasi yang lebih lama. Ekspektasi hawkish ini menguat menyusul kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Pejabat tinggi The Fed, John Williams dari New York Fed, menyatakan bahwa bank sentral masih harus bekerja keras meredam inflasi, sementara Anna Paulson dari Philadelphia Fed menyebut pengetatan kebijakan tambahan yang moderat kemungkinan masih diperlukan.
Di kancah domestik, volatilitas harga minyak mentah dunia tetap menjadi sorotan utama pelaku pasar karena dampaknya terhadap postur fiskal nasional meskipun harganya sempat mengalami penurunan. Nico menambahkan, tingkat kewaspadaan investor juga meningkat menjelang rilis data penting pekan depan, yakni neraca perdagangan Agustus 2026 dan tingkat inflasi September 2026.
Sejak bel pembukaan ditiup hingga penutupan perdagangan sesi pertama dan kedua, IHSG secara konsisten bergerak di zona merah. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh dari sebelas sektor kompak mencatatkan pelemahan. Sektor industri memimpin penurunan terdalam sebesar 2,30%, diikuti oleh sektor infrastruktur yang merosot 2,03%, serta sektor properti yang terkoreksi 1,34%.
Di jajaran emiten, saham yang mencatatkan penguatan harga terbesar (top gainers) meliputi MBTO, SHID, TRUK, FORU, dan UVCR. Sebaliknya, jajaran saham dengan koreksi terdalam (top losers) di antaranya diisi oleh CTTH, NASI, NATO, KIOS, dan KOKA.
Aktivitas transaksi di pasar saham pada hari ini mencatatkan frekuensi sebanyak 1,58 juta kali dengan volume mencapai 26,20 miliar lembar saham senilai total Rp9,37 triliun. Secara rinci, sebanyak 122 saham menguat, 587 saham mengalami pelemahan, dan 254 saham stagnan.
Sementara itu, pergerakan bursa saham regional Asia pada Jumat sore bervariasi. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,45% ke level 66.466,00, indeks Shanghai Tiongkok melemah 1,22% ke 3.888,37, indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,01% ke 24.510,09, indeks Kuala Lumpur Malaysia turun tipis 0,04% ke 1.671,62, dan indeks Straits Times Singapura naik 0,51% ke 5.712,24. (Ant/E-4)
