
KUNJUNGAN Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) memunculkan harapan baru di kalangan masyarakat dan pelaku hubungan AS–Tiongkok agar pertemuan dengan Presiden Donald Trump menghasilkan kemajuan nyata dalam hubungan kedua negara.
Xi meninggalkan Beijing menuju Washington pada Rabu (23/9). Sejumlah tokoh di AS berharap pertemuan kedua pemimpin dapat memperkuat hubungan bilateral yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Kunjungan Xi ke AS tidak hanya dipandang dari sisi hubungan antarpemerintah. Sejumlah warga dan tokoh AS yang ditemui China Daily berharap pertemuan tersebut turut membuka ruang bagi kerja sama ekonomi, teknologi, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat.
Mereka juga berharap kesepakatan yang telah dibangun Xi dan Trump dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret. Terutama yang memberi manfaat bagi masyarakat kedua negara serta meningkatkan stabilitas dan kepastian global.
Christopher Nixon Cox, anggota dewan Richard Nixon Foundation sekaligus cucu mantan Presiden AS Richard Nixon, mengatakan intensitas komunikasi antara Xi dan Trump meningkatkan harapan terhadap hubungan kedua negara.
Menurut dia, perbedaan antara AS dan Tiongkok akan tetap ada. Namun, kedua negara juga memiliki kepentingan yang dapat dikerjakan bersama.
“Saya pikir kita benar-benar perlu fokus pada bagaimana kita dapat menciptakan dunia yang stabil dan makmur,” ujar Cox.
Mantan Presiden US-China Business Council Craig Allen menilai hubungan bilateral bergerak ke arah yang lebih baik. Namun, prosesnya tidak selalu berjalan mulus karena lingkungan internasional semakin kompleks.
Allen berharap pertemuan Xi dan Trump dapat melanjutkan hasil pertemuan tingkat tinggi AS–Tiongkok di Beijing pada Mei.
Ia mengharapkan hubungan ekonomi kedua negara ditandai dengan hambatan perdagangan yang lebih rendah, peningkatan arus investasi, serta lingkungan investasi yang lebih terbuka.
“Baik Tiongkok maupun Amerika Serikat menjadi makmur melalui perdagangan dan keterbukaan terhadap investasi internasional. Tidak ada pihak yang mampu melakukan pemisahan ekonomi,” kata Allen.
Pandangan serupa muncul dari masyarakat AS. Sony Perpignan, warga Florida yang sedang bepergian di New York, mengatakan produk manufaktur Tiongkok telah membuat berbagai barang lebih terjangkau bagi konsumen di banyak negara.
“Orang-orang Tiongkok cenderung berada di garis depan teknologi dalam banyak hal. Karena itu, kami menghargai apa yang ditawarkan Tiongkok kepada dunia,” katanya.
Kerja Sama Kecerdasan Buatan
Kerja sama juga dinilai penting dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Craig Mundie, wakil ketua bersama China-US AI Track Two Dialogue dari AS, mengatakan Tiongkok dan AS perlu bekerja sama untuk mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.
Menurut Mundie, kemampuan untuk mengendalikan sistem AI yang semakin canggih dan mencegah penggunaan ilegal teknologi itu masih belum matang.
“Tugas yang paling mendesak bagi kedua negara dan perusahaan mereka adalah mengembangkan kemampuan pertahanan terhadap risiko tersebut,” ujarnya.
Mundie mengatakan keamanan AI membutuhkan kerja sama lintas negara. Upaya membuat AI cukup aman agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, menurut dia, harus melibatkan Tiongkok, AS, dan negara lainnya.
Selain ekonomi dan teknologi, hubungan antarmasyarakat menjadi salah satu bidang yang diharapkan dapat memperbaiki pemahaman antara kedua negara.
Colette McWilliams, pendidik di sebuah sekolah swasta di kawasan San Francisco Bay Area, mengatakan kunjungan Xi dapat membuka lebih banyak ruang dialog.
“Sebagai seseorang yang percaya pada pendidikan global, saya pikir semakin banyak kita dapat berkolaborasi, semakin banyak kita dapat mempertemukan orang dalam satu ruangan, berbicara dan berdialog, semakin baik kita semua,” katanya.
Menurut McWilliams, pertukaran pendidikan juga dapat membantu generasi muda memahami masyarakat di negara lain.
“Perbedaan adalah sesuatu yang membuat dunia kita menjadi ajaib dan sesuatu yang seharusnya membuat kita bersemangat—belajar dari kolega dan teman kita, bukan sesuatu yang harus ditakuti,” ujarnya.
“Saya senang dia (Xi) datang. Saya pikir ini adalah langkah yang bagus.”
Pengalaman sehari-hari dengan produk, bisnis, budaya, dan masyarakat Tiongkok juga disebut membentuk pandangan sebagian anak muda Amerika.
Salem, 18, dari Chicago, mengatakan semakin banyak toko dan merek asal Tiongkok yang ditemuinya di Times Square, New York.
Menurut dia, pertukaran antarmasyarakat, perjalanan, dan percakapan langsung dapat membantu memperkuat hubungan antara masyarakat Amerika dan Tiongkok. (China Daily/B-3)
