Transisi Energi Dorong Perubahan Teknologi Jaringan Listrik
Enlit Asia 2026(Schneider)

Modernisasi jaringan listrik kini menjadi kebutuhan mendesak seiring dengan peningkatan kapasitas pembangkit dan integrasi energi terbarukan. Di saat yang sama, industri kelistrikan dituntut mengadopsi teknologi ramah lingkungan, terutama melalui transisi dari penggunaan sulfur heksafluorida (SF6) pada peralatan tegangan menengah.

Tren ini terkonfirmasi dalam white paper terbaru International Data Corporation (IDC) berjudul “SF6-Free MV Switchgear: Industry Readiness, Decision Drivers, and the Way Forward”. Studi tersebut mengungkapkan bahwa 21% organisasi di Asia Tenggara telah mulai beralih ke teknologi bebas SF6, sementara 39% lainnya berencana melakukan transisi dalam dua tahun ke depan.

Temuan ini dipaparkan oleh Schneider Electric dalam ajang Enlit Asia 2026 yang berlangsung pada 22-24 September 2026 di ICE BSD City, Tangerang. Mengusung tema “Powering the Intelligent Grid”, Schneider Electric menampilkan berbagai inovasi untuk mendukung sistem kelistrikan yang lebih berkelanjutan, andal, dan terdigitalisasi.

Urgensi Penghapusan SF6

Selama puluhan tahun, SF6 digunakan sebagai media isolasi pada peralatan tegangan menengah. Namun, gas ini memiliki dampak pemanasan global yang sangat tinggi dan mampu bertahan di atmosfer hingga 3.200 tahun. Dengan tersedianya alternatif komersial, fokus industri kini bergeser pada kesiapan adopsi dan implementasi.

Business Vice President Power Systems Schneider Electric Indonesia, Hery Saputra, menegaskan bahwa modernisasi jaringan adalah fondasi penting transisi energi nasional. “Modernisasi jaringan listrik menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung transisi energi Indonesia, terutama seiring bertambahnya kapasitas pembangkit dan integrasi energi terbarukan,” ujar Hery, Selasa (22/9).

Ia menambahkan bahwa elektrifikasi, digitalisasi, dan otomasi adalah pilar utama Schneider Electric dalam membantu sektor utilitas membangun sistem yang efisien dan siap menghadapi kebutuhan masa depan.

Solusi AirSeT dan Produksi Lokal

Schneider Electric mengampanyekan transisi ini melalui inisiatif global “Breathe Easy with AirSeT”. Portofolio AirSeT menggunakan udara murni (Pure Air) sebagai media isolasi dan teknologi vakum untuk pemutusan arus. Dalam Enlit Asia 2026, perusahaan menampilkan seri SM AirSeT dan RM AirSeT.

Menariknya, SM AirSeT telah diproduksi di fasilitas Schneider Electric di Cikarang. Langkah ini bertujuan mendukung pelanggan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik sekaligus memperkuat rantai pasok regional.

VP Power Systems Commercial Schneider Electric East Asia & Japan, Nancy Lin, menyebut Asia Tenggara sebagai pasar potensial. “Dengan portofolio AirSeT yang telah teruji, kami membantu organisasi membangun kepercayaan untuk melangkah maju dalam transformasi mereka, mendukung ambisi net-zero tanpa mengorbankan ketahanan sistem energi,” kata Nancy.

Digitalisasi Pengelolaan Jaringan

Selain perangkat keras bebas SF6, Schneider Electric memamerkan ekosistem digital untuk modernisasi distribusi energi:

  • EcoStruxure ADMS: Sistem manajemen distribusi tingkat lanjut untuk memantau operasi jaringan secara terintegrasi, meningkatkan keandalan dan fleksibilitas.
  • EcoStruxure DERMS: Membantu utilitas mengelola sumber energi terdistribusi seperti panel surya dan baterai agar terintegrasi dengan mulus ke jaringan utama.
  • PowerLogic: Solusi proteksi dan pengukuran untuk memastikan keamanan aset serta efisiensi operasional.

Dari sisi layanan, Schneider Electric menghadirkan EcoConsult, EcoCare, dan EcoFit untuk membantu perusahaan merancang strategi pengelolaan aset yang optimal dan berkelanjutan. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *