Cek Fakta: Klaim Palsu Donald Trump di Sidang Umum PBB 2026
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan sejumlah klaim palsu dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9). Meski sebagian besar terpaku pada teks yang telah disiapkan, Trump melontarkan beberapa pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta lapangan, mulai dari isu perdamaian dunia hingga perubahan iklim.

Apa saja klaim palsu itu? Berikut hasil analisis konteks saat ini terhadap beberapa pernyataan utama Trump.

1. Klaim Mengakhiri Delapan Perang

Trump mengulangi klaim bahwa sejak menjabat, ia berhasil menyelesaikan delapan perang. Ia merujuk pada konflik antara Kamboja-Tailan, Kosovo-Serbia, Rwanda-Republik Demokratik Kongo, India-Pakistan, Armenia-Azerbaijan, perang di Gaza, konflik Israel-Iran tahun 2025, serta perselisihan Mesir-Etiopia.

Faktanya, angka delapan tersebut merupakan hiperbola yang jelas. Beberapa situasi yang ia sebutkan, seperti perselisihan Mesir dan Etiopia terkait proyek bendungan, hanyalah sengketa diplomatik dan bukan perang. Konflik Serbia-Kosovo juga tidak dikategorikan sebagai perang selama masa jabatannya.

Selain itu, perang yang melibatkan Rwanda dan Kongo belum berakhir meski ada kesepakatan damai. Di Gaza, serangan terus berlanjut meskipun ada upaya gencatan senjata. Terkait Iran, meski Trump membantu mengakhiri konflik singkat pada 2025, AS justru terlibat dalam perang baru melawan Iran pada 2026.

Trump mencemooh peringatan tentang dampak perubahan iklim dengan mengeklaim bahwa para ahli pernah memprediksi dunia akan berakhir dalam 12 tahun dan menuduh istilah pemanasan global diubah menjadi perubahan iklim karena planet ini mendingin.

Pernyataan ini mengandung empat kesalahan fatal:

  • Istilah: Pemanasan global dan perubahan iklim masih digunakan secara luas oleh ilmuwan dengan makna berbeda; pemanasan global merujuk pada tren suhu, sementara perubahan iklim merujuk pada efeknya.
  • Suhu Global: Planet ini tidak mendingin. Data WMO menunjukkan 11 tahun terakhir adalah rekor terpanas, dengan 2023, 2024, dan 2025 sebagai tiga tahun terpanas.
  • Korban Jiwa: Klaim bahwa tidak ada yang mati dibantah oleh WHO yang memperkirakan ratusan ribu kematian tambahan per tahun akibat dampak iklim.
  • Konteks 12 Tahun: Laporan sains tahun 2018 tidak menyatakan dunia akan berakhir dalam 12 tahun, melainkan perlu pemotongan emisi drastis dalam jangka waktu tersebut untuk mencegah dampak yang lebih buruk.

3. Angka Investasi US$21 Triliun

Trump mengeklaim telah mengamankan komitmen investasi baru sebesar US$21 triliun (sekitar Rp318.000 triliun) dari seluruh dunia. Namun, angka ini tidak memiliki dasar yang kuat.

Situs web Gedung Putih sendiri hanya mencatat pengumuman investasi sebesar US$11,2 triliun, jauh di bawah klaim Trump. Tinjauan data menunjukkan bahwa angka tersebut mencakup janji investasi yang samar, perdagangan bilateral, dan komitmen dari perusahaan domestik AS sendiri, bukan murni investasi asing. Data federal menunjukkan investasi langsung asing (FDI) baru di AS hanya sekitar US$232 miliar pada tahun 2025.

4. Stok Amunisi AS

Trump membantah laporan bahwa AS kekurangan amunisi akibat perang dengan Iran. Ia menyatakan AS memiliki lebih banyak amunisi dari yang dibutuhkan.

Namun, laporan dari Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan dan Kantor Anggaran Kongres (CBO) yang dirilis pekan lalu menunjukkan ada kekurangan strategis pada inventaris amunisi dan hambatan pada basis industri pertahanan. CBO mencatat bahwa AS kemungkinan telah menggunakan setengah hingga dua pertiga dari stok pencegat pertahanan rudal sejak Juni 2025 dan pembangunannya kembali membutuhkan waktu setidaknya lima tahun.

5. Penurunan Kriminalitas di Washington DC

Trump mengeklaim tingkat kriminalitas di Washington DC turun 87% sejak ia menjabat tahun lalu. Data resmi Departemen Kepolisian setempat menunjukkan angka ini sangat tidak akurat.

Meskipun ada penurunan, total kejahatan di Washington hingga September 2026 turun sekitar 23% dibandingkan periode yang sama tahun 2024, atau turun 15% dibandingkan tahun 2025. Angka ini jauh dari klaim 87% yang terus diulang oleh Trump. (CNN/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *