
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bahwa anak-anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap penularan penyakit influenza, baik tipe A maupun tipe B, dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan kondisi sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT (K), menjelaskan bahwa postur tubuh anak menjadi salah satu faktor risiko utama. Karena tinggi badan anak berada di bawah orang dewasa, mereka lebih mudah menghirup partikel halus (droplet) saat orang dewasa di sekitarnya berbicara, bersin, atau batuk.
“Jangan heran, anak itu tingginya kan masih di bawah dewasa. Merekalah yang kalau kita bicara, kita bersin, kita batuk, akan menghirup semua partikel-partikel halus. Sehingga merekalah yang berisiko tertular,” ujar Prof. Anggraini dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Jumat (22/9).
Kelompok Anak Paling Berisiko
Selain faktor fisik, sistem imun anak yang belum memiliki “pengalaman” terpapar berbagai virus membuat infeksi lebih mudah terjadi. Prof. Anggraini, yang juga menjabat sebagai Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, merinci beberapa kelompok anak yang memiliki risiko penularan lebih tinggi:
- Anak-anak berusia di bawah 5 tahun.
- Anak yang dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA) dengan ventilasi minim.
- Anak dengan kelainan neurologi atau gangguan tumbuh kembang.
- Anak yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau area padat penduduk.
Data menunjukkan bahwa dampak influenza pada anak tidak bisa disepelekan. Berikut adalah statistik risiko perawatan berdasarkan keterangan IDAI:
| Kategori Data | Persentase / Keterangan |
|---|---|
| Anak terinfeksi yang butuh rawat inap | Sekitar 5% |
| Pasien rawat inap usia di bawah 2 tahun | Sekitar 80% |
| Proporsi bayi di bawah 6 bulan dari total pasien | 50% |
Gejala dan Masa Pemulihan
Gejala influenza pada anak cenderung muncul dengan cepat dan terasa lebih berat. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, hidung tersumbat atau berair, sakit tenggorokan, hingga kelelahan ekstrem yang disertai hilangnya nafsu makan. Selain itu, rasa pegal hebat di seluruh tubuh sering dikeluhkan, dengan waktu pemulihan yang bisa mencapai berminggu-minggu.
Prof. Anggraini juga mengingatkan bahwa anak yang terinfeksi, serta pasien dengan kondisi immunocompromised (sistem imun terganggu), dapat menyebarkan virus dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan orang sehat pada umumnya.
Langkah Pencegahan dan Pengobatan
Untuk menekan risiko penularan, IDAI merekomendasikan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan, konsumsi makanan bergizi, dan menjaga kecukupan cairan tubuh. Selain itu, masyarakat diimbau untuk memanfaatkan vaksinasi influenza yang sudah tersedia.
Langkah pencegahan lingkungan juga sangat penting, di antaranya:
- Rutin berjemur di bawah sinar matahari.
- Membuka jendela untuk memastikan sirkulasi udara yang baik.
- Mengurangi aktivitas di ruangan ber-AC yang padat orang.
Terkait pengobatan, Prof. Anggraini menyatakan penggunaan paracetamol masih diperbolehkan untuk meredakan gejala. Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan antibiotik tidak dianjurkan karena penyebab penyakit ini adalah virus, bukan bakteri. Virus influenza sendiri diketahui memiliki kemampuan untuk menempel pada berbagai permukaan barang, sehingga kebersihan lingkungan tetap menjadi kunci utama. (Ant/Z-1)
