Demensia Bukan Bagian Normal Penuaan, Kenali Faktor Risiko yang Bisa Dimodifikasi
Ilustrasi proses penuaan.(Dok. Magnific)

DEMENSIA kerap dianggap sebagai bagian yang tidak terhindarkan dari proses penuaan. Namun, sejumlah faktor yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif ternyata masih dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan kondisi kesehatan.

Psikolog Klinis Brightly, Dr. Susan Yates, menegaskan bahwa bertambahnya usia memang menjadi salah satu faktor risiko demensia, tetapi tidak berarti setiap orang yang menua akan mengalami kondisi tersebut.

“Demensia bukanlah bagian yang tak terhindarkan dari penuaan. Meskipun usia merupakan faktor risiko untuk mengembangkan demensia, ada sejumlah faktor risiko yang dapat dimodifikasi,” ujar Susan.

Memahami Perbedaan Penuaan Normal dan Demensia

Demensia merupakan istilah yang mencakup sejumlah penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa jenis yang umum antara lain penyakit Alzheimer, demensia vaskular, demensia campuran, demensia frontotemporal, dan demensia dengan badan Lewy.

Penting untuk dicatat bahwa perubahan kemampuan mengingat yang terjadi sesekali belum tentu menandakan demensia. Pada penuaan normal, seseorang mungkin kesulitan mengingat nama atau sesekali salah menaruh barang, namun tetap mandiri dalam beraktivitas.

Kondisi berbeda terjadi pada gangguan kognitif ringan atau mild cognitive impairment (MCI). Pada tahap ini, perubahan kognitif mulai terukur namun belum signifikan mengganggu aktivitas harian. Sementara pada demensia, penurunan fungsi sudah memengaruhi kemandirian, seperti kesulitan mengelola keuangan, memasak, hingga tersesat di tempat yang familiar.

Faktor Risiko Demensia yang Dapat Dimodifikasi

Komisi Lancet pada 2024 mengidentifikasi sejumlah faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi. Faktor-faktor ini diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 45 persen risiko demensia secara keseluruhan. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Tingkat pendidikan yang lebih rendah.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes.
  • Obesitas dan kurangnya aktivitas fisik.
  • Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
  • Gangguan pendengaran dan kehilangan penglihatan.
  • Depresi, isolasi sosial, serta paparan polusi udara.

Salah satu faktor yang mendapat perhatian besar adalah gangguan pendengaran. Menurut Susan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko masalah kognitif melalui berkurangnya stimulasi otak dan meningkatnya isolasi sosial.

“Gangguan pendengaran kini diakui sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi terbesar untuk masalah kognitif dan demensia,” kata Susan. Oleh karena itu, pemeriksaan pendengaran dan penggunaan alat bantu dengar menjadi langkah krusial dalam menjaga kesehatan otak.

Aktivitas fisik menjadi pilar penting lainnya. Olahraga membantu menjaga kesehatan jantung, pembuluh darah, serta mendukung aliran darah ke otak. Selain itu, latihan kekuatan dan keseimbangan sangat dianjurkan untuk menjaga mobilitas seiring bertambahnya usia.

Kualitas tidur juga tidak boleh diabaikan. Orang dewasa membutuhkan tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam untuk proses konsolidasi memori dan pemulihan sel otak. Gangguan seperti sleep apnea (henti napas saat tidur) harus segera dikonsultasikan ke medis karena dapat mengurangi pasokan oksigen ke otak.

Sebagai penutup, Susan menganjurkan agar setiap individu tetap aktif secara kognitif, sosial, dan fisik. Pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan bagian integral dari upaya menjaga kesehatan otak sepanjang usia. (Age Brightly/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *