
INTERVENSI droping air bersih ini dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur lantaran sejumlah wilayah di Jawa Timur tengah dilanda kekeringan dan krisis air bersih salah satunya di Kab. Ponorogo. Tercatat lima kecamatan di Ponorogo mengalami kekeringan.
“Kami menerima data hingga tanggal 19 September 2026, 24 wilayah di Jawa Timur telah mengeluarkan status darurat. Termasuk Ponorogo yang sekarang dialami 5 kecamatan,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Senin (21/9).
Khusus Ponorogo, Pemprov Jatim telah mengirimkan kebutuhan air bersih di Dsn. Dungus Ds Karangpatihan Kec. Pulung 15.000 liter air bersih disalurkan menggunakan 3 armada truk tangki berkapasitas 5.000 liter.
Selain itu, Gubernur Khofifah juga memberikan bantuan berupa 3 buah tandon, 2 buah tandon lipat, dan 60 buah jerigen untuk masyarakat serta membagikan sembako di desa tersebut.
Sedangkan untuk keseluruhan Kabupaten Ponorogo, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan berupa 200 buah jerigen kapasitas 15 liter, 50 buah tandon kapasitas 1200 liter untuk penanganan kekeringan dan krisis air bersih.
Di Kabupaten Ponorogo sendiri kekeringan terjadi di 5 kecamatan yang dialami 241 keluarga, 612 jiwa. Di Kec. Pulung kekeringan berdampak pada 56 keluarga 189 jiwa, Kec. Bungkal terdapat 111 keluarga 193 jiwa, Kec. Sampung 10 keluarga 35 jiiwa. Lalu di Kec. Jambon berdampak pada 120 jiwa dan di Kec Slahung menimpa 36 keluarga, 75 jiwa.
“Untuk sementara Ponorogo sudah teratasi dengan adanya droping air dari Pemprov Jatim. Dan akan terus dikirim sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang benar benar membutuhkan air bersih,” ujarnya.
Selama ini, jelas Gubernur, droping air bersih oleh Pemprov Jatim telah dilakukan di 23 kabupaten di Jawa Timur. Antara lain Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, dan Pamekasan. Lalu Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto.
Kemudian penyaluran air bersih juga telah dilaksanakan di Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, Sampang dan Kediri.
Tak hanya itu, orang nomor satu di Jatim ini menjelaskan Pemprov Jatim melalui Dinas Sumber Daya Air berupaya memetakan sumber mata air yang bisa ditarik melalui pipanisasi.
Pola ini sudah dilakukan di berbagai daerah, seperti di Singosari Malang yang menarik air dari kawasan Gunung Arjuna sejauh 15 kilometer, bahkan di titik lain hingga mencapai 17 kilometer.
“Kalau di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, kita bisa bersama-sama membangun konektivitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini,” kata Khofifah.
Ia mengakui tantangan pipanisasi tidak mudah. Di beberapa lokasi yang sudah terkonfirmasi ada sumber air, namun upaya pipanisasi sempat terkendala karena kekhawatiran warga desa sekitar sumber air tidak tercukupi.
Selian itu upaya yang bisa dilakukan, kata Gubernur Khofifah, adalah dengan melakukan pengeboran sumur. Namun tiap daerah memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.
“Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” katanya. (FL)
