
KRISIS air bersih akibat bencana kekeringan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mencatat sebanyak 88.011 jiwa atau 22.483 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 62 desa di 30 kecamatan kini mengalami krisis air bersih.
Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang, dipadu dengan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan resapan, serta pencemaran limbah pada sumber air baku menjadi faktor utama parahnya kondisi ini.
Merespons situasi tersebut, BPBD telah mengalirkan sebanyak 730 ribu liter atau setara 144 tangki air bersih untuk meringankan beban warga.
“Fenomena El Nino tahun ini makin kering dan sudah mencakup 30 Kecamatan hingga pasokan air bersih yang diberikan mencapai 730.000 liter dilakukan guna meringankan beban masyarakat. Karena, kebutuhan tersebut diperuntukkan untuk minum, masak, cuci pakaian, wudlu serta lainnya lantaran sumur yang mereka miliki kering,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, Minggu (20/9).
Roni menjelaskan, krisis air bersih menerjang 62 desa dari total 351 desa yang ada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Kondisi ini membuat sebagian besar warga terpaksa mengandalkan pasokan bantuan setiap hari.
Meski demikian, pendistribusian air di lapangan memicu kendala tersendiri bagi petugas lantaran jarak antartitik lokasi terdampak cukup berjauhan.
“Kebutuhan air bersih yang dipasok tidak hanya warga tapi pesantren, rumah sakit, sekolah, perbankan, perkantoran dan yang lainnya. Akan tetapi, pendistribusian air bersih tidak hanya dilakukan BPBD tapi berbagai pihak swasta turut membantu agar air bisa dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya,” katanya.
KRISIS MELUAS KE PANGANDARAN
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Pangandaran. Bencana kekeringan berdampak signifikan terhadap puluhan ribu warga akibat mengeringnya sumur-sumur pasokan air utama.
Ketua FK Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana, mengungkapkan wilayah terdampak paling parah meliputi Kecamatan Cimerak, Cijulang, dan Cigugur. Petugas dan relawan Tagana bahkan harus bergerak hingga larut malam guna menyalurkan bantuan.
“Krisis air yang terjadi di wilayahnya telah membuat pasukan Tagana Pangandaran membantu meringankan beban warga dan melayani dengan memasok air bersih bagi 15.032 kepala keluarga (KK) atau 43.098 jiwa. Kebutuhan air yang diberikan sudah mencapai 855.000 liter dan sekarang para petugas Tagana masih berjalan memasok air ke berbagai pelosok,” pungkasnya. (AD/P-2)
