Dari Rempah ke Produk Jadi, Peluang Baru Kolaborasi di Industri Pangan
Booth Nekaboga di Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026.(Dok. Nekaboga)

KEBUTUHAN industri pangan tidak lagi berhenti pada ketersediaan bahan baku. Pelaku usaha juga membutuhkan dukungan dalam mengembangkan formulasi, menjaga kualitas bahan, hingga menghasilkan produk siap dipasarkan. Peluang tersebut mendorong pemasok bahan pangan memperluas perannya menjadi mitra pengembangan produk bagi industri.

PT Natura Perisa Aroma (NPA) melalui Nekaboga melihat peluang tersebut dengan mengembangkan Nekaboga Solutions. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan tidak hanya menyediakan rempah dan ingredients, tetapi juga mendampingi pelaku industri dalam mengembangkan produk sesuai kebutuhan.

Pendekatan tersebut diperkenalkan dalam keikutsertaan Nekaboga bersama Nekaroma dan Alvalab di Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 yang berlangsung pada 16–18 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Ketiganya menempati Booth D1C01 untuk memperkenalkan kapabilitas masing-masing sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan customer, business partner, food manufacturer, brand owner, dan pelaku industri lainnya.

Managing Director Natura Perisa Aroma Billy Laurence mengatakan perusahaan sejak awal konsisten menggunakan berbagai bahan alami dan memiliki pengalaman memasok bahan serta layanan bagi berbagai industri.

“Sejak awal berdiri, perusahaan kami selalu konsisten menggunakan berbagai bahan alami. Kami memiliki rekam jejak yang terbukti dalam menyediakan berbagai industri dengan produk dan layanan berkualitas tinggi,” ujar Billy.

Selain rempah-rempah dan herbal, perusahaan juga memasok aromachemical atau senyawa aromatik dan minyak atsiri. Lini aromachemical tersebut mencakup produk seperti Eugenol USP dan berbagai clove oil derivatives yang digunakan dalam rantai pasok sejumlah industri, antara lain flavor and fragrance, pharmaceutical, personal care, serta aplikasi lainnya yang membutuhkan bahan berkualitas dan konsisten.

Perusahaan juga menggunakan sistem sumber bahan berbasis sustainable ecosystem untuk memilih bahan dari berbagai wilayah Indonesia. Ekosistem tersebut mencakup pengadaan bibit hingga kemitraan yang dikembangkan bersama petani sebagai pemasok bahan baku.

Dekat dengan pasar domestik

Selama ini, Nekaboga lebih banyak berfokus pada pasar ekspor. Kini perusahaan ingin memperkuat hubungan dengan pelanggan di Indonesia melalui layanan yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan rempah.

Marketing Services Manager Nekaboga Laksmi Istikasari mengatakan Nekaboga Solutions disiapkan untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang lebih beragam.

“Sekarang kami ingin lebih dekat dengan customer. Nekaboga Solutions ini kami siapkan untuk memberikan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi bukan hanya menawarkan spice, tetapi kami juga bisa membantu pengembangan produk sesuai kebutuhan,” ujar Laksmi.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan pemilik brand maupun pelaku usaha yang ingin masuk ke industri makanan tetapi belum memiliki fasilitas produksi sendiri.

Commercial Head Nekaboga Christopher Soesanto mengatakan perusahaan ingin berperan sebagai mitra industri, bukan sekadar pemasok bahan baku.

“Kami sebenarnya sedang mencari partner industri yang ingin bekerja sama dengan kami. Mereka bisa menjadi pemilik brand, sementara kami menjadi creator atau pihak yang mengembangkan produknya,” kata Christopher.

Skema tersebut dapat digunakan oleh pelaku usaha yang telah memiliki brand atau ide produk, tetapi belum mempunyai kapasitas produksi. Nekaboga dapat mendampingi proses mulai dari formulasi, produksi, pengurusan izin, hingga menjadi produk jadi.

Pendekatan tersebut sekaligus mencakup kapabilitas private label dan contract manufacturing yang diperkenalkan Nekaboga dalam partisipasinya di Fi Asia 2026.

Dari formulasi hingga produksi

Dalam mengembangkan produk, Nekaboga tidak hanya menyediakan bahan baku. Perusahaan melibatkan tim Research and Development (R&D) untuk terlebih dahulu memahami kebutuhan pelanggan sebelum menentukan solusi.

Menurut Christopher, setiap kebutuhan akan melalui assessment agar pengembangan produk sesuai dengan aplikasi dan ekspektasi pelanggan.

“Bukan sekadar customer datang dan bertanya produknya apa, jumlahnya berapa, atau bahannya dari mana. Kami punya tim R&D yang menjadi bagian dari solution area. Kami melakukan assessment terlebih dahulu, melihat kebutuhannya apa, baru kemudian memberikan solusinya,” jelas Christopher.

Pelanggan dapat membawa resep sendiri atau mendiskusikan karakter produk yang ingin dikembangkan bersama tim Nekaboga. Perusahaan juga memiliki bank resep yang dapat digunakan sebagai referensi dalam proses pengembangan.

Laksmi mengatakan pengembangan dapat disesuaikan dengan karakter produk yang dibutuhkan pelanggan, mulai dari rasa hingga tingkat kepedasan dan spesifikasi tertentu.

“Kami bisa melakukan custom dan mendiskusikannya bersama customer. Misalnya mereka ingin produk dengan karakter rasa tertentu, tingkat kepedasan tertentu, atau spesifikasi tertentu. Kami berusaha adaptif, tetapi standar kualitas tetap kami jaga,” kata Laksmi.

Produk yang dikembangkan dapat mencakup berbagai kebutuhan berbasis rempah, termasuk seasoning dan produk turunannya dalam bentuk bubuk maupun bentuk bahan lain sesuai kebutuhan pelanggan.

Andalkan bahan lokal

Pengembangan layanan tersebut ditopang pengalaman Nekaboga selama lebih dari tiga dekade dalam pengolahan natural herbs, spices, dan ingredients untuk kebutuhan industri.

Nekaboga berdiri pada 1988 sebagai fasilitas pengeringan jahe, kunyit, dan lengkuas dengan nama Neka Boga Perisa. Pada 1998, perusahaan mengembangkan penerapan teknologi steam sterilization untuk rempah di Indonesia.

Saat ini, fasilitas utama Nekaboga berada di Lampung dan menjadi bagian dari jaringan pengadaan bahan pertanian yang melibatkan petani lokal.

Christopher mengatakan sebagian besar bahan baku yang digunakan perusahaan berasal dari Indonesia. Untuk bahan tertentu yang belum dapat diproduksi secara optimal di dalam negeri, perusahaan melakukan pengadaan dari luar negeri.

“Sebagian besar bahan kami berasal dari lokal dan disediakan oleh petani lokal. Untuk bahan tertentu yang tidak bisa tumbuh di Indonesia, baru kami melakukan impor,” katanya.

Kemitraan dengan petani tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap responsible sourcing sekaligus mendukung keberlanjutan pasokan bahan baku.

Selain ketersediaan bahan, kualitas menjadi faktor penting dalam memenuhi kebutuhan industri. Christopher mengatakan bahan baku yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebelum masuk ke proses produksi berikutnya.

Kami harus memastikan bahan baku yang digunakan dalam produksi sudah memenuhi persyaratan. Jadi sebelum masuk ke proses berikutnya, semuanya perlu dipastikan sesuai dengan standar yang dibutuhkan customer,” ujarnya.

Dalam kehadiran bersama di Fi Asia 2026, kebutuhan tersebut juga dilengkapi Alvalab melalui layanan pengujian laboratorium untuk mendukung food safety dan quality compliance.

Bagi Nekaboga, partisipasi di Fi Asia 2026 juga menjadi kesempatan untuk bertemu langsung dengan calon mitra sekaligus memahami kebutuhan industri.

Laksmi mengatakan perusahaan terbuka berdiskusi dengan pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk, termasuk pemilik brand yang membutuhkan dukungan formulasi maupun kapasitas produksi.

Christopher menambahkan tim R&D Nekaboga siap terlibat dalam pembahasan pengembangan produk.

“Kalau ada yang ingin masuk ke industri ini dan membutuhkan partner yang reliable, kami terbuka untuk berdiskusi dengan tim R&D. Kalau ada pengembangan produk, kami siap berkolaborasi,” katanya.

Melalui Nekaboga Solutions, perusahaan menargetkan hubungan yang lebih panjang dengan pelanggan dan mitra industri, tidak hanya pada kebutuhan bahan baku, tetapi juga mencakup pengembangan formulasi, produksi, hingga menghasilkan produk siap digunakan. (E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *