11.669 Hektare Lahan Pertanian di Kalsel Kekeringan dan Puluhan Hektare Terbakar
Ilustrasi(MI/Agung Wibowo)

KEMARAU dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah menyebabkan bencana kekeringan serta terbakarnya lahan pertanian di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan. Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel mencatat hingga pekan ketiga September 2026 luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan mencapai 11.669,8 hektare dan luas pertanian terbakar seluas 52 hektare lebih.

“Kekeringan terus meluas dan sebagian mengalami puso akibat kemarau yang cukup ekstrem tahun ini. Selain itu lahan pertanian juga banyak ikut terbakar imbas Karhutla. Ini tentu menjadi perhatian kita,” ungkap Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, di sela-sela kegiatan pembagian air bersih kepada warga sejumlah desa di Kabupaten Banjar yang mengalami kekeringan, Sabtu (19/9).

Tercatat kekeringan terjadi di hampir seluruh daerah sentra pertanian di Kalsel dengan luas mencapai 11.669,8 hektare dan 4.884 hektare diantaranya mengalami puso atau gagal panen. Daerah terparah mengalami kekeringan adalah Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut dan Tanah Bumbu. 

Selain padi, Dinas DPKP Kalsel juga mencatat ada 44,8 hektare tanaman jagung di Barito Kuala dan Hulu Sungai Selatan mengalami kekeringan dan 9,5 hektare diantaranya puso. “Tentu banyak petani yang merugi. Terkait hal ini pemerintah akan memberikan bantuan seperti benih atau bibit kepada petani,” ujarnya.

Disamping ancaman kekeringan akibat kemarau, lahan pertanian di Kalsel terancam akibat Karhutla. Sepanjang Agustus 2026 dilaporkan ada lebih kurang 24 hektare areal pertanian padi termasuk 15 hektare tanaman cabe di Kabupaten Tapin hangus terbakar. 

Pada September ada 28,6 hektare areal pertanian terbakar yang didominasi tanaman jeruk di sejumlah kecamatan di Barito Kuala. Kerugian diderita petani akibat kekeringan dan kebakaran ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah. 

“Melihat kondisi kemarau dan karhutla yang terus terjadi, menjadi ancaman bertambahnya dampak terhadap lahan pertanian,” kata Syamsir. Meski demikian pihaknya tetap optimis target produksi pangan khususnya padi pada 2026 di Kalsel sebesar 1,3 juta ton dapat terealisasi. (Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *