
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) baru akan memasuki awal musim hujan pada November 2026. Hal ini terjadi setelah sebagian besar wilayah di provinsi tersebut mengalami kondisi kering yang cukup panjang hingga awal Oktober.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa September menjadi salah satu periode terkering di Sumsel tahun ini. Wilayah yang terdampak paling signifikan meliputi Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU).
“Sampai bulan November memang curah hujan lebih kering dari biasanya, tetapi bulan November meskipun lebih kering sudah di atas 50 milimeter per tujuh hari,” ujar Wandayantolis di Palembang, Kamis (17/9).
Potensi Hujan di Masa Peralihan
Meskipun kondisi kering masih mendominasi, peluang hujan diprediksi mulai muncul pada Oktober dengan intensitas yang relatif rendah. Potensi hujan pada periode tersebut diperkirakan terkonsentrasi di wilayah utara hingga tengah Sumsel, seperti Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Musi Rawas.
Selain itu, potensi hujan juga mulai tampak di wilayah selatan, termasuk OKI dan sebagian wilayah OKU. Memasuki November 2026, Sumsel secara resmi diprakirakan masuk ke musim hujan periode 2026/2027 dengan distribusi curah hujan yang mulai merata di berbagai wilayah.
Pantauan Awan Hujan dan Risiko Karhutla
BMKG saat ini tengah memantau adanya potensi pertumbuhan awan hujan pada 18 dan 22 September 2026. Kehadiran awan ini diharapkan dapat membawa hujan di wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem, sekaligus membantu membasahi titik panas (hotspot) serta lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, Wandayantolis menekankan bahwa sebaran hujan sangat bergantung pada kondisi angin. Arah pergerakan angin akan sangat memengaruhi wilayah mana saja yang akan menerima curahan air dari pertumbuhan awan tersebut.
“Secercah harapan ada potensi awan kuat. Mudah-mudahan awan tersebut bisa menghasilkan hujan, terutama di daerah yang ada hotspot dan fire spot,” tambahnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca kering selama periode peralihan ini. Kewaspadaan ekstra diperlukan terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan karhutla dan daerah yang masih mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. (Ant/E-3)
