
SUTRADARA teater asal Jepang, Tadashi Suzuki, memandang dunia sebagai tempat yang dipenuhi berbagai persoalan manusia. Baginya, konflik, pembunuhan, kehancuran keluarga, hingga penderitaan menjadi gambaran tentang kondisi manusia yang kemudian ia refleksikan melalui karya teater, termasuk King Lear.
Pandangan tersebut disampaikan Tadashi Suzuki dalam konferensi pers pertunjukan “King Lear directed by Tadashi Suzuki” di Jakarta. Pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi Indonesia-Jepang yang diproduksi bersama Bumi Purnati Indonesia dan Suzuki Company of Toga, dengan dukungan The Japan Foundation.
Dunia seperti Rumah Sakit
Suzuki menggambarkan kondisi dunia melalui perumpamaan rumah sakit. Menurutnya, kekacauan yang terjadi di berbagai tempat menunjukkan bahwa manusia seolah hidup dalam keadaan yang sama-sama membutuhkan pertolongan.
“Menurut saya juga kekacauan di dunia ini menunjukkan bahwa banyak di seluruh dunia itu banyak rumah sakit. Namun, dunia ini kayak rumah sakit,” ujar Suzuki.
Ia kemudian menyinggung berbagai kekerasan dan konflik yang terjadi di dunia. Suzuki mengatakan, gambaran penderitaan para korban membuat kondisi dunia terasa seperti neraka.
“Banyak pembunuhan terjadi di baik di Gaza atau di Ukraina. Ini kalau lihat video-video korban di tempat-tempat tersebut itu saya seperti kita seperti ada di neraka ya. Jadi kayak kita ini semuanya sakit,” katanya.
Menurut Suzuki, persoalan tersebut juga menghadirkan pertanyaan mengenai siapa yang dapat memberikan pertolongan ketika begitu banyak manusia berada dalam kondisi yang sakit.
“Di tengah banyak orang sakit tersebut, kita juga enggak tahu ada di mana dokter atau siapa yang bisa menyembuhkan kita,” ujarnya.
Manusia, Kekerasan, dan Keluarga yang Rusak
Pandangan Suzuki terhadap dunia juga berkaitan dengan keberadaan orang-orang yang melakukan kejahatan dan menyebabkan penderitaan. Ia melihat dunia tidak hanya dihuni oleh orang-orang dalam kondisi baik, tetapi juga mereka yang terlibat dalam pembunuhan dan berbagai tindakan merugikan manusia lain.
Kondisi tersebut tercermin dalam karya-karyanya, termasuk King Lear, yang menghadirkan pembunuhan, kejahatan, serta kehancuran keluarga. Bagi Suzuki, persoalan tersebut tidak sekadar menjadi cerita di atas panggung, tetapi juga mencerminkan keadaan dunia yang masih dipenuhi berbagai masalah.
Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja
Pandangan Suzuki tentang dunia juga berkaitan dengan kondisi sosial dan geopolitik yang menurutnya semakin kacau. Ia menilai situasi tersebut tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga pada keberlangsungan kehidupan seni.
“Secara budaya di situasi geopolitik di dunia pun sekarang juga kacau, banyak hal-hal yang akan terjadi,” ujar Suzuki. Ia juga menyebut bahwa para seniman menghadapi persoalan akibat lingkungan yang semakin sulit, termasuk tantangan dalam mempertahankan aktivitas seni.
Suzuki juga menilai adanya penurunan dalam sejumlah aspek di Jepang. Ia menyebut kondisi budaya dan politik di negaranya mengalami degradasi dibandingkan masa sebelumnya.
Menjadi Pengingat bagi Diri Sendiri
Bagi Suzuki, dunia yang dipenuhi konflik dan penderitaan menjadi refleksi pribadi yang memengaruhi cara ia melihat manusia dan menciptakan karya. Pemikiran tersebut kemudian ia tuangkan dalam King Lear melalui karakter, konflik keluarga, kekerasan, dan kehancuran hubungan antar manusia.
King Lear pun tidak hanya menjadi pementasan karya Shakespeare, tetapi juga ruang refleksi terhadap kondisi manusia dan dunia yang menurut Suzuki masih dipenuhi berbagai persoalan. Melalui teater, persoalan tersebut kembali dihadirkan untuk mengajak penonton melihat sisi manusia di tengah konflik dan penderitaan.
