
SETIAP 16 September, dunia memperingati International Day of Science, Technology and Innovation for the South atau Hari Sains, Teknologi, dan Inovasi Internasional untuk Negara-Negara Selatan. Peringatan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi 78/259 ini mengingatkan bahwa sains, teknologi, dan inovasi perlu menjadi kekuatan pembangunan berkelanjutan, terutama bagi negara-negara berkembang.
Bagi Indonesia, dan bagi perguruan tinggi seperti Ukrida, momentum ini bukan sekadar kesempatan untuk merayakan kemajuan teknologi. Ini adalah ajakan untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan di kampus dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari banyaknya teknologi yang digunakan, melainkan juga dari kemampuannya menciptakan dan mengembangkan solusi bagi kebutuhannya sendiri.
Indonesia memperlihatkan tantangan tersebut dengan jelas. Kehidupan masyarakat semakin dekat dengan teknologi digital. Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 mencatat bahwa sekitar 68,65 persen penduduk Indonesia telah memiliki telepon seluler. Namun, rumah tangga yang memiliki atau menguasai komputer baru mencapai 18,52 persen. Teknologi memang makin mudah dijangkau, tetapi akses terhadap perangkat yang mendukung belajar, bekerja, mencipta, dan mengembangkan teknologi belum sepenuhnya merata.
Kita telah menjadi pengguna berbagai aplikasi, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, perangkat medis, dan layanan digital. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak teknologi tersebut yang lahir dari persoalan Indonesia, dikembangkan oleh peneliti Indonesia, diproduksi oleh industri Indonesia, dan menciptakan nilai bagi masyarakat Indonesia?
Dari pengguna menjadi pencipta
Dalam Global Innovation Index 2025, Indonesia berada pada peringkat ke-55 dari 139 negara. Pencapaian ini patut diapresiasi, terutama karena Indonesia termasuk negara berpendapatan menengah yang menunjukkan kemajuan dalam ekosistem inovasi. Namun, posisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemampuan menghasilkan dan menghilirisasi inovasi masih perlu terus diperkuat.
Karena itu, tantangan kita bukan hanya memperluas penggunaan teknologi, tetapi bergerak dari pengguna menjadi pencipta. Perubahan ini membutuhkan pendidikan yang bermutu, penelitian jangka panjang, keberanian mengambil risiko, pembiayaan, serta kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Negara berkembang tidak selalu harus mengejar teknologi yang paling rumit. Banyak inovasi yang dibutuhkan masyarakat justru berangkat dari kebutuhan yang dekat: alat pemeriksaan kesehatan yang lebih terjangkau, sistem peringatan banjir yang mudah digunakan, aplikasi yang membantu usaha kecil, teknologi pengolahan sampah, atau perbaikan proses kerja yang membuat pelayanan publik lebih cepat.
Dengan kata lain, inovasi tidak selalu harus melangit. Inovasi perlu membumi.
Sains yang membumi dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan. Apa kesulitan yang dialami pasien? Apa yang dibutuhkan tenaga kesehatan? Mengapa pelaku UMKM kesulitan menggunakan teknologi? Mengapa sistem informasi yang baik secara teknis tidak digunakan? Mengapa hasil penelitian berhenti sebagai laporan dan tidak berlanjut menjadi solusi?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu justru dapat menjadi awal penelitian yang bernilai.
Kekuatan multidisiplin Ukrida
Ukrida memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dalam perjalanan ini. Kekuatan utamanya tidak hanya berada pada satu bidang ilmu, tetapi pada keberadaan disiplin-disiplin yang dapat dipertemukan untuk memecahkan persoalan bersama.
Dalam klaster kesehatan dan layanan manusia, Ukrida memiliki Kedokteran, Profesi Dokter, Keperawatan, Profesi Ners, dan Sarjana Terapan Optometri. Bidang-bidang ini dapat berkontribusi melalui penelitian pencegahan penyakit, keselamatan pasien, kesehatan kerja, pelayanan lansia, teknologi pemantauan kesehatan, serta perluasan akses pelayanan kesehatan. Program Studi Sarjana Terapan Optometri Ukrida, yang merupakan program pertama dan (saat ini) satu-satunya di Indonesia, memiliki posisi khas untuk mengembangkan model skrining penglihatan dan inovasi pemeriksaan mata yang menjangkau masyarakat lebih luas.
Dalam klaster teknologi dan sistem cerdas, Ukrida memiliki Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Sipil, Informatika, Sistem Informasi, Program Profesi Insinyur, serta Magister Kecerdasan Buatan. Potensinya mencakup pengembangan perangkat cerdas, kecerdasan buatan, robotika, infrastruktur berkelanjutan, perbaikan proses industri, sistem logistik, dan layanan digital yang aman serta mudah digunakan.
Sementara itu, Manajemen dan Akuntansi diperlukan agar inovasi tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga layak diterapkan, mempunyai model pembiayaan, dan dapat tumbuh secara berkelanjutan. Psikologi dapat membantu memahami perilaku pengguna, penerimaan masyarakat terhadap teknologi, kesehatan mental, dan dampak perubahan pola kerja. Sastra Inggris pun penting untuk mengomunikasikan sains kepada publik serta memastikan teknologi tetap menghargai bahasa, budaya, dan nilai kemanusiaan.
Bayangkan sebuah program skrining gangguan penglihatan yang dirancang secara bersama-sama. Optometri dan Kedokteran dapat mengembangkan metode pemeriksaannya. Teknik Elektro dapat merancang perangkat portabel. Informatika dapat membangun sistem deteksi berbasis kecerdasan buatan. Sistem Informasi dapat mengintegrasikan data pemeriksaan. Teknik Industri dapat menyusun alur layanan yang efektif dan efisien. Manajemen dan Akuntansi dapat merancang model pembiayaan yang terjangkau. Psikologi membantu memahami kesediaan masyarakat untuk menggunakan layanan tersebut. Sastra Inggris membantu literasi ke berbagai kalangan atas layanan yang tersedia.
Kolaborasi semacam inilah yang membuat sains lebih dekat dengan kehidupan.
Modal yang perlu dihubungkan
Ukrida tidak memulai dari nol. Berbagai penelitian, publikasi, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, prototipe, dan karya mahasiswa telah dihasilkan. Sejumlah capaian juga menunjukkan bahwa semangat inovasi telah tumbuh di lingkungan kampus.
Pada 2026, delapan mahasiswa Program Studi Kedokteran Ukrida meraih medali emas dalam International Science Project Competition. Penelitian mereka berangkat dari potensi tanaman sungkai yang digunakan secara tradisional, lalu dikaji melalui pendekatan ilmiah untuk menilai potensi farmakologisnya. Capaian ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal dapat bertemu dengan pembuktian ilmiah.
Mahasiswa Fakultas Teknologi Cerdas juga telah menampilkan karya, penelitian, dan teknologi dari berbagai program studi melalui Smartech Expo. Di bidang bisnis, mahasiswa Magister Manajemen Ukrida meraih penghargaan dalam International Youth Innovation Summit 2025 melalui gagasan penguatan ekosistem UMKM dan inklusi keuangan. Capaian-capaian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan gagasan dan karya inovatif telah ada dan perlu terus dirawat.
Apresiasi layak diberikan kepada dosen yang tetap melakukan penelitian di tengah tanggung jawab pengajaran dan tugas institusional. Penghargaan yang sama patut diberikan kepada mahasiswa yang melampaui tuntutan nilai dengan terlibat dalam penelitian, kompetisi, dan kegiatan inovasi.
Di tengah tuntutan pengajaran, publikasi, pelaporan kinerja, dan penyelesaian studi, tantangan berikutnya adalah memastikan penelitian tidak berhenti pada pemenuhan target akademik. Nilai tambah tertinggi sebuah penelitian muncul ketika temuannya dapat diuji, dikembangkan, dan digunakan oleh masyarakat atau mitra.
Karena itu, dosen dan mahasiswa perlu semakin terdorong untuk berdialog dengan pengguna, mengamati persoalan di lapangan, dan bekerja sama melintasi batas disiplin. Penelitian multidisiplin memang lebih rumit karena bahasa keilmuan, cara kerja, dan pembagian peran dapat berbeda. Namun, persoalan masyarakat juga tidak pernah hadir dalam kotak-kotak program studi.
Tugas akhir, misalnya, tidak semestinya hanya dilihat sebagai syarat kelulusan. Ia dapat menjadi kesempatan untuk menemukan masalah, menguji gagasan, belajar dari kegagalan, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Mahasiswa dapat memulai dari persoalan di rumah sakit, tempat magang, perusahaan, sekolah, komunitas, atau bahkan di lingkungan kampus sendiri. Bukankah ini roh dari Outcome-Based Education?
Dari penelitian menuju dampak
Salah satu tantangan umum di negara berkembang adalah jarak antara penelitian dan pemanfaatannya. Banyak gagasan berhenti pada publikasi, sementara banyak prototipe berhenti setelah pameran atau kompetisi selesai. Jarak tersebut tidak dapat dijembatani oleh peneliti seorang diri.
Ke depan, Ukrida dapat terus memperkuat ekosistem yang menghubungkan penelitian dengan pengguna. Penelitian lintas fakultas, kemitraan dengan industri, rumah sakit, dan komunitas sebagai ruang pengujian, pendampingan kekayaan intelektual, inkubasi inovasi, serta dukungan lanjutan bagi karya yang berpotensi dikembangkan merupakan beberapa langkah yang dapat memperpendek jarak antara gagasan dan dampak.
Keberhasilan penelitian pun perlu dilihat tidak hanya dari jumlah publikasi, tetapi juga dari perubahan yang dihasilkannya. Apakah penelitian membantu pelayanan pasien? Apakah teknologi yang dibuat digunakan oleh mitra? Apakah suatu model meningkatkan produktivitas usaha kecil? Apakah rekomendasi peneliti dapat mendukung pengambilan kebijakan? Apakah kehidupan masyarakat menjadi sedikit lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sejalan dengan semangat Ukrida, Lead to Impact. Memimpin tidak hanya berarti berada di depan. Memimpin juga berarti berani mengambil tanggung jawab atas persoalan di sekitar kita. Dampak pun tidak harus selalu dimulai dalam skala besar. Solusi yang membantu satu komunitas, satu rumah sakit, satu perusahaan, atau satu kelompok masyarakat dapat menjadi awal perubahan yang lebih luas.
Hari Sains, Teknologi, dan Inovasi Internasional untuk Negara-Negara Selatan bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa negara berkembang tidak boleh selamanya hanya menjadi pasar bagi teknologi yang diciptakan pihak lain.
Ukrida memiliki modal penting: keragaman disiplin, dosen dan mahasiswa yang berkarya, serta orientasi Lead to Impact. Tantangan berikutnya adalah mempertemukan kekuatan tersebut, menghubungkan penelitian dengan persoalan nyata, dan mendampingi gagasan hingga benar-benar dipakai. Sebab, nilai tertinggi sains bukan pada rumitnya penjelasan, melainkan pada nyatanya manfaat bagi kehidupan.
