Laporan Pentagon Ungkap Kerugian Besar AS akibat Serangan Iran
Rudal Iran ke Yordania.(Al Jazeera)

LAPORAN terbaru dari pengawas internal Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengungkap skala kerugian yang dialami Washington akibat serangan Iran selama konflik berlangsung. Laporan yang dirilis pada Senin (14/9/2026) ini memberikan rincian resmi pertama mengenai kerusakan aset militer dan fasilitas diplomatik AS sejak akhir Februari hingga Juni 2026.

Dokumen tersebut mengungkapkan bahwa AS kehilangan puluhan pesawat, termasuk sedikitnya 30 drone MQ-9 Reaper, serta ratusan bangunan dan struktur di berbagai pangkalan militer di kawasan Teluk. Temuan ini kontras dengan pernyataan publik sebelumnya yang sering kali mengeklaim bahwa sebagian besar serangan Iran berhasil digagalkan.

Krisis Amunisi dan Bantahan Trump

Selain kerugian fisik, laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan mengakui ada hambatan serius dalam rantai pasokan militer. AS dilaporkan mulai kehabisan stok amunisi utama dan menghadapi bottleneck logistik. Fakta ini bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa AS memproduksi senjata lebih hebat dari kapan pun dalam sejarah dan memiliki persediaan amunisi yang hampir tidak terbatas.

Korban Jiwa dan Personel Militer

Berdasarkan data Pentagon, setidaknya 11 personel militer AS tewas dalam aksi pertempuran (killed in action), sementara tujuh lain meninggal dalam insiden nontempur. Berikut rincian lokasi jatuhnya korban akibat serangan Iran:

  • Pelabuhan Shuaiba, Kuwait (1 Maret): 6 personel tewas.
  • Arab Saudi (1 Maret): 1 personel tewas.
  • Pangkalan Udara Muwaffaq al-Salti, Yordania (17 Juli): 3 personel tewas.
  • Pangkalan Udara Erbil, Irak (19 Juli): 1 personel tewas.

Selain itu, sedikitnya 417 personel militer AS dilaporkan terluka hingga akhir Juni 2026.

Rincian Kerugian Pesawat Tempur dan Drone

Kerugian udara AS mencakup berbagai jenis pesawat, mulai dari jet tempur canggih hingga pesawat pengintai tak berawak:

  • MQ-9 Reaper: Sebanyak 30 drone bersenjata ini hancur.
  • F-15E Strike Eagle: 4 unit hancur (3 akibat friendly fire di Kuwait, 1 ditembak jatuh di Iran).
  • KC-135 Stratotanker: 7 unit hancur atau rusak berat, termasuk satu kecelakaan di Irak yang menewaskan 6 kru.
  • MQ-4C Triton: 1 unit pesawat pengintai seharga Rp3,7 triliun (US$240 juta) jatuh pada April.
  • AH-64 Apache & Helikopter lainnya: Beberapa unit jatuh di Selat Hormuz dan Laut Arab.

Kerusakan Fasilitas Diplomatik dan Pangkalan

Serangan Iran juga berdampak pada infrastruktur darat di delapan negara, termasuk Kuwait, Bahrain, Qatar, Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania. Pentagon mencatat ratusan bangunan di instalasi militer rusak, meski rincian spesifik tiap lokasi tidak dibuka sepenuhnya.

Di sektor diplomatik, kerugian diperkirakan mencapai Rp2,8 triliun (US$184 juta). Fasilitas di Irak menjadi yang paling terdampak dengan lebih dari 600 serangan, mengakibatkan kerusakan pada Konsulat Jenderal di Erbil dan Kedutaan Besar di Baghdad dengan total kerugian mencapai Rp2,4 triliun (US$157 juta).

Masalah logistik juga mencuat. Centcom melaporkan kesulitan akses pelabuhan di negara tuan rumah, memaksa AS mengalihkan dukungan logistik ke Diego Garcia yang membutuhkan siklus transit laut hingga 18 hari. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *