Bau Urine Jadi Identitas, Ini Cara Kucing Mengenali Satu Sama Lain
Seekor kucing mengendus sampel urin kucing lain selama percobaan.(Iwate University via Kyodo/Bangkok Post)

ILMUAN mengungkap cara kucing domestik mengenali individu lain melalui bau urine. Studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Current Biology menunjukkan, komposisi urine setiap kucing memiliki profil yang khas sehingga dapat menjadi penanda identitas.

Tim peneliti multinasional, termasuk ilmuwan Jepang, menganalisis komponen urine yang memicu respons flehmen grimace atau ekspresi wajah yang dikenal pemilik kucing sebagai “wajah mencium bau menyengat”.

Dalam eksperimen, peneliti mengamati respons kucing ketika mengendus urine kucing lain. Sebelumnya, diketahui kucing memperoleh informasi mengenai individu lain melalui urine yang disemprotkan untuk menandai wilayah. Namun, komponen spesifik yang berperan dalam proses tersebut belum sepenuhnya diketahui.

Penelitian menemukan kombinasi dan proporsi asam lemak rantai bercabang tertentu membentuk penanda aroma yang khas pada setiap kucing. Senyawa tersebut berasal dari cadangan di ginjal dan dapat mempertahankan aroma dalam waktu relatif lama.

Profil senyawa itu berbeda antara satu kucing dan kucing lainnya. Temuan serupa juga ditemukan pada urine sejumlah anggota keluarga kucing lainnya, termasuk singa, harimau, dan kucing hutan Iriomote.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan secara elektronik di Current Biology pada pekan ini. Para peneliti menilai temuan itu berpotensi dimanfaatkan untuk mengurangi bau urine kucing serta membantu pemantauan spesies kucing langka.

Profesor Fakultas Pertanian Universitas Iwate Masao Miyazaki mengatakan penelitian tersebut berawal dari pengamatan terhadap perilaku yang sudah dikenal pemilik kucing.

“Berawal dari ekspresi wajah yang sudah dikenal oleh para pemilik kucing, kami berhasil mengungkap bagaimana kucing mengenali satu sama lain melalui urine,” ujar Miyazaki.

Menurut Miyazaki, penelitian mengenai mekanisme penumpukan asam lemak di ginjal juga berpotensi memberikan manfaat lebih luas.

“Mempelajari mekanisme akumulasi asam lemak di ginjal dapat berkontribusi pada penelitian mengenai penyakit pada kucing dan manusia,” ujarnya. (Bangkok Post/B-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *