
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), dr. Hanny Nilasari, menekankan bahwa infeksi human papillomavirus (HPV) bukan hanya menjadi ancaman bagi perempuan, tetapi juga bagi laki-laki. Banyak laki-laki yang terinfeksi virus ini tanpa menyadari gejalanya.
“HPV tidak hanya menyerang perempuan tetapi juga laki-laki. Banyak laki-laki terinfeksi HPV yang tanpa gejala, tidak disadari,” ujar dokter Hanny Nilasari, dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Risiko Kanker pada Laki-laki
Dokter spesialis lulusan Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa infeksi virus HPV dapat berkembang menjadi penyakit kulit dan kelamin yang serius, bahkan berisiko memicu kanker. Prosesnya dimulai dari infeksi lokal yang memicu perubahan sel menjadi lesi prakanker sebelum akhirnya berkembang menjadi ganas.
Hanny mengungkapkan data bahwa 1 dari 3 pria berusia di atas 15 tahun terinfeksi HPV. Pada laki-laki, virus ini dapat menyebabkan berbagai jenis kanker, antara lain:
- Kanker penis
- Kanker skrotum
- Kanker anus
- Kanker mulut
- Kanker tenggorokan
Bahkan, Hanny mencatat bahwa risiko kanker tenggorokan pada laki-laki empat kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan.
Gejala dan Faktor Risiko
Salah satu tanda fisik infeksi HPV adalah munculnya daging tumbuh di kulit yang menyerupai kembang kol pada area genital. Kondisi ini umumnya tidak disertai rasa nyeri, berukuran kecil sehingga sulit terlihat, dan memiliki tekstur yang bervariasi dari halus hingga kasar.
Pada laki-laki, kondisi ini sering kali diabaikan, terutama bagi mereka yang belum disirkumsisi (disunat). Manifestasi lesi bisa tersembunyi di balik kulit area genital, sehingga menjadi tempat virus HPV bertahan dan berkembang.
Selain itu, data menunjukkan tingkat penularan dari perempuan ke laki-laki mencapai 12,3 persen. “Laki-laki merasa tidak apa-apa karena infeksinya biasanya transien (sementara). Tetapi kalau HPV yang datang ke kulit itu tipe risiko tinggi, infeksinya bisa persisten (menetap) dan semakin berat,” jelasnya.
Pentingnya Vaksinasi Sejak Dini
Hanny menyayangkan masih rendahnya kesadaran laki-laki terhadap HPV akibat kurangnya informasi dan anggapan keliru bahwa virus ini hanya menyerang perempuan. Selain itu, kekhawatiran berlebihan terhadap efek samping vaksin juga menjadi hambatan.
Ia menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari pengobatan ke pencegahan melalui vaksin HPV. Berbeda dengan perempuan yang memiliki metode deteksi dini seperti pap smear, laki-laki tidak memiliki metode screening serupa.
“Tidak ada metode screening untuk laki-laki. Jadi ini suatu nilai tambah untuk laki-laki yang mendapatkan vaksinasi HPV. Cakupan vaksin yang tinggi akan mengurangi infeksi HPV dan lesi prakanker,” pungkas Hanny. (Ant/H-3)
