BNPB Salurkan 777 Ton Bantuan ke Wilayah Terdampak Bencana di NTT
BNPB salurkan bantuan untuk korban gempa NTT.(Dok. Antara)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat rantai pasok logistik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Jumat (21/8), Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma mencatat hampir 890 ton bantuan telah diterima dari berbagai pihak untuk kemudian disalurkan ke wilayah terdampak.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan bahwa bantuan tersebut terus digerakkan melalui sejumlah jalur distribusi agar kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak dapat dipenuhi secara bertahap.

“BNPB terus memastikan dukungan logistik bergerak dari pusat menuju wilayah terdampak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Koordinasi dengan kementerian/lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, dan organisasi kemanusiaan terus diperkuat agar distribusi berjalan efektif,” kata Berton dalam keterangannya, Sabtu (22/8).

Berdasarkan data hingga 21 Agustus, sebanyak 889.659 kilogram atau sekitar 890 ton bantuan dari 57 donatur telah masuk ke Gudang Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma. Bantuan tersebut selanjutnya didistribusikan melalui Pos Logistik Labuan Bajo dan Pos Logistik Maumere.

Dari total bantuan yang masuk, sebanyak 312.711 kilogram atau sekitar 313 ton telah diterbangkan menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara selama periode 15–21 Agustus. Rinciannya, 175.118 kilogram dikirim ke Labuan Bajo dan 137.593 kilogram menuju Maumere.

Distribusi juga dilakukan menggunakan pesawat kargo komersial dengan dukungan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB. Pada 17–21 Agustus, sebanyak 465.000 kilogram atau 465 ton bantuan telah dikirim melalui jalur tersebut. Sebanyak 360.000 kilogram di antaranya menuju Labuan Bajo, sedangkan 105.000 kilogram dikirim ke Maumere.

Dengan demikian, total bantuan yang telah disalurkan melalui dua jalur udara tersebut mencapai 777.711 kilogram atau sekitar 777,7 ton hingga 21 Agustus.

Selain logistik kebutuhan dasar, BNPB juga mengirimkan dukungan untuk kebutuhan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Sebanyak 245 unit tenda pengungsi telah dikirim, terdiri atas 201 unit ke Labuan Bajo dan 44 unit ke Maumere.

Pengiriman juga mencakup 2.968 unit tenda keluarga. Dari jumlah tersebut, 2.332 unit dialokasikan untuk Labuan Bajo dan 636 unit untuk Maumere.

Di sisi lain, persediaan yang masih tersimpan di Gudang Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma tercatat sebanyak 576.948 kilogram atau sekitar 577 ton. Bantuan tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari kementerian/lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan hingga pihak lainnya.

Penguatan distribusi kembali dilakukan pada Sabtu (22/8). Lanud Halim Perdanakusuma menyiapkan empat sortie pesawat TNI Angkatan Udara dengan total kapasitas angkut sekitar 47 ton.

Satu pesawat Airbus A-4001 dengan kapasitas sekitar 22 ton dijadwalkan membawa bantuan menuju Maumere. Sementara itu, tiga pesawat Boeing juga disiapkan. Boeing A-7305 berkapasitas sekitar 10 ton dan Boeing A-7304 sekitar 5 ton direncanakan menuju Labuan Bajo. Adapun Boeing A-7306 dengan kapasitas sekitar 10 ton dijadwalkan menuju Maumere.

“Distribusi akan terus disesuaikan dengan kapasitas angkut dan kebutuhan masing-masing wilayah. Kami berupaya agar bantuan yang tersedia dapat segera bergerak dan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Menurutnya, pengiriman bantuan tidak hanya mengandalkan penerbangan pesawat TNI Angkatan Udara. BNPB juga memanfaatkan pesawat kargo komersial dengan dukungan DSP serta jalur laut untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan pasokan logistik.

Adapun kebutuhan prioritas dalam masa tanggap darurat meliputi hunian, pangan, kesehatan dan sanitasi, serta berbagai kebutuhan nonpangan.

Untuk kebutuhan hunian, bantuan yang diperlukan mencakup tenda pengungsi, tenda keluarga, terpal, kasur lipat, selimut, matras, hingga genset. Sementara kebutuhan pangan meliputi sembako, makanan siap saji, air mineral, beras, dan makanan ringan.

Pada sektor kesehatan dan sanitasi, kebutuhan antara lain obat-obatan, pembalut, popok bayi, serta popok dewasa. Sedangkan kebutuhan nonpangan mencakup hygiene kit yang berisi sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, sampo, dan handuk.

BNPB juga memprioritaskan paket perlengkapan bayi, antara lain sabun bayi, sampo bayi, minyak telon, dan handuk bayi.

Berton menegaskan, pengelolaan bantuan dilakukan secara terkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana.

“Yang menjadi perhatian utama adalah memastikan bantuan yang sudah terkumpul dapat tersalurkan secara tepat dan berkelanjutan, terutama untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak di NTT,” tuturnya.

Penguatan sistem logistik tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan bantuan sekaligus mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak bencana di NTT. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *