
LEMBAGA Seni Budaya dan Peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia (LSBPI-MUI) menggagas International Short Story Award on Palestine (ISSA-Palestine 2026). Kompetisi ini diinisiasi sebagai bentuk dukungan moral, sarana edukasi literasi, sekaligus menjadi medium kesaksian sejarah atas krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina.
Ketua LSBPI MUI, Habiburrahman El Shirazy menyampaikan sayembara penulisan cerpen Islami tentang Palestina itu merupakan program prioritas.
Sayembara bergengsi itu mengangkat tema Palestina: Kemanusiaan, Keimanan, dan Kemerdekaan. Peserta diberikan kebebasan berekspresi seluas-luasnya dalam kerangka tema tersebut. Guna menjangkau audiens global, kompetisi ini dibuka dalam tiga kategori bahasa, yaitu bahasa Indonesia/Melayu, bahasa Inggris, dan bahasa Arab.
“Ini menjadi sangat penting bahwa kita berusaha kalaupun tidak mampu dengan kekuatan langsung menghentikan itu, tapi paling tidak tulisan-tulisan kita itu memihak kepada kebenaran, berpihak kepada kemanusiaan,” ujar sastrawan yang akrab disapa Kang Abik dalam acara peluncuran di Gedung MUI Pusat, Jakarta pada Kamis (20/8).
Kang Abik juga menambahkan bahwa panitia menargetkan karya-karya pemenang akan dibukukan. Khusus untuk karya-karya pemenang berbahasa Arab, pihak LSBPI MUI berikhtiar agar buku tersebut nantinya dapat dibawa dan dipamerkan di ajang bergengsi Cairo International Book Fair di Mesir.
Lintas agama
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa sayembara itu sangat inklusif. Terbuka untuk umum tanpa batasan usia—mulai dari anak-anak hingga dewasa. Selain itu, kompetisi ini tidak terbatas hanya untuk umat Muslim. Siapa pun dari latar belakang agama apa pun yang peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan di Palestina dipersilakan untuk mengirimkan karyanya.
Wakil Ketua LSBPI MUI Helvy Tiana Rosa mengatakan bahwa sayembara penulisan cerpen internasional ini bersifat terbuka dan inklusif, tanpa melihat latar belakang agama maupun suku para peserta. “Pesertanya tidak harus Muslim,” katanya.
Format cerita pendek (cerpen) dipilih sebagai jalan tengah (wasatiyah) agar karya tidak terlalu singkat seperti puisi dan tidak terlalu panjang seperti novel, sehingga memudahkan tim juri dalam melakukan penilaian yang objektif secara sastra maupun substansi cerita.
Ketua Bidang Seni Budaya MUI, Buya Pasni Rusli menyoroti kekuatan jangka panjang dari sebuah karya sastra jika dibandingkan dengan pemberitaan harian.
“Kalau baca berita, sebulan lalu, sebulan hilang. Nah, kalau bentuk sastra, bentuk tulisan, bentuk cerita pendek, ini mudah-mudahan ini akan dibaca orang sepanjang waktu. Nah kalau dengan demikian, kita bisa berpartisipasi untuk rakyat Palestina menuju kemerdekaan rakyat Palestina,” ungkap Buya Pasni.
Untuk memastikan karya yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, peluncuran sayembara ini juga dirangkai dengan workshop penulisan. Tujuannya adalah agar para penulis memiliki arah yang jelas dan tidak sekadar terbawa emosi atau fanatisme semata saat menuangkan idenya. (M-3)
